Title : Another Destiny
Genre : Romance
Main cast : Jung Yong Hwa as Kim Tae Woo, Park Shin Hye as Park Soon Hee.
Other cast : Ahn Seo Hyun as Park Eun Jung
*Mian, kalau ceritanya nggak bagus. Maklumlah, aku pemula. banyak yang salah. Kalau ada yang mau ngasih saran silahkan. Satu lagi, menurutku ini judulnya nggak cocok. Tapi aku bingung mau nulis judul apaan. em, tapi nggak apalah. Enjoy reading :)*
Genre : Romance
Main cast : Jung Yong Hwa as Kim Tae Woo, Park Shin Hye as Park Soon Hee.
Other cast : Ahn Seo Hyun as Park Eun Jung
*Mian, kalau ceritanya nggak bagus. Maklumlah, aku pemula. banyak yang salah. Kalau ada yang mau ngasih saran silahkan. Satu lagi, menurutku ini judulnya nggak cocok. Tapi aku bingung mau nulis judul apaan. em, tapi nggak apalah. Enjoy reading :)*
~The power of love can change impossible something to be possible~
Di depan ruang UGD terlihat pasangan suami-istri yang sedang cemas. Mereka sedang menunggu dokter yang memeriksa putri sulung mereka,Park Soon Hee. Ia telah mengalami kecelakaan mobil. Hampir dua puluh menit mereka menunggu, tapi dokter tak kunjung keluar.
Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki dan seorang gadis kecil datang menghampiri mereka.
"Syukurlah, kau tidak apa-apa sayang. Sini, sama ibu. Maafkan ibu. Ibu harus meninggalkanmu di rumah sendirian," wanita yang tadi duduk di bangku depan UGD itupun berdiri dan memeluk gadis kecil itu.
"Tae Woo, terima kasih sudah membawa Eun Jung kesini. Bibi yakin, ia pasti sangat ketakutan"
"Iya,Bi."
Tak lama kemudian, dokter keluar. Ibu dan bapak tadi, serta laki-laki yang dipanggil Tae Woo tadi langsung menuju pintu UGD dan menyerbu dokter itu dengan berbagai pertanyaan.
"Tenang saja. Anak ibu dan bapak tidak apa-apa. Hanya saja ..." Dokter menghentikan ucapannya.
"Kenapa dok?" Tanya ibu Park Soon Hee.
"Ini tidak ada hubungannya dengan kecelakaan yang dialaminya. Saya hanya melihat kalau dia punya penyakit kanker paru-paru. Tapi untuk lebih pastinya, kita harus memeriksa ulang tentang penyakit kankernya itu. Saya juga harus berbicara dengan dokter kanker terlebih dahulu."
"Apa dok? Kanker?" Ibu itu shock. Ia langsung menangis mendera-dera.
"Tapi untuk kelanjutannya,ibu dan bapak akan saya hubungi lagi. Saya permisi dulu." Dokter itu berlalu pergi.
***
Skip ----
Setelah melakukan pemeriksaan ulang terhadap penyakit Soon Hee. Ternyata hasilnya benar positif. Soon Hee mengidap penyakit kanker paru-paru. Ia harus di rawat di rumah sakit entah sampai kapan.
Orang tuanya sedikit bingung karena Soon Hee tidak terkejut ketika ia diberi tau kalau ia mengidap kanker. Ternyata Soon Hee sudah mengetahuinya sekitar dua bulan yang lalu. Ia tidak ingin merepotkan orang tuanya.
Kini, Park Soon Hee di pindahkan ke ruang rawat. Sudah satu minggu ia berada disana. Hari ini, orang tua Son Hee tidak bisa menjenguknya. Mereka akan menjenguknya nanti malam.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih dua puluh menit. Tampaknya ia sedang menunggu seseorang.
"Good morning sayang" ucap seorang pria yang tiba-tiba saja datang dengan membawa bunga.
Park Soon Hee tersenyum. Ini dia, orang yang di nantinya telah datang. "Sudah siang, bukan pagi lagi. Itu liat mataharinya sudah terik"
"Oiya sudah siang yaa," pria itu menyeringai.
"Katanya kamu mau nyanyiin lagu terbaru kamu? Mana? Kamu bohong yaa," Soon Hee mencubit perut Tae Woo, pria yang sangat di cintainya itu.
"Aw, sakit," ucap Tae Woo sambil memegangi perutnya. "Iya-iya. Aku sudah hampir selesai kok. Lusa, lagu itu akan aku tunjukin ke kamu. Arasso?"
"Janji yaa" Soon Hee menunjukkan jari kelingkingnya.
"Janji" Tae Woo menyatukan jari kelingking mereka.
***
Esok harinya...
Soon Hee berteriak meminta tolong. Ia mencoba mengambil obatnya. Dan sesekali ia menghirup obat hirupnya. Tapi itu tak berfungsi sama sekali. Ia tak mampu berteriak lagi.
Lima menit kemudian, dokter dan para suster datang. Namun, Park Soon Hee tak dapat melihat apa-apa lagi. Yang dilihatnya hanya remang-remang dinding ruangan dan ia merasa dunia seakan berputar-putar. Nafasnya pun sudah hampir habis. Ia terlihat sangat pucat. Saat itu, orang tua Soon Hee belum datang. Dan Tae Woo bilang, ia akan ke rumah sakit pukul 11.00 . Soon Hee harus menjalani pemeriksaan lagi.
***
Ayah,ibu,bibi,paman,adik, dan beberapa saudara Soon Hee yang lainnya sudah berkumpul di rumah sakit. Mereka benar-benar berdoa agar Soon Hee dapat selamat.
Dokter keluar dan berkata, "Maafkan saya, sepertinya kami tidakdapat berbuat banyak. Detak jantungnya masih berfungsi. Kemungkinan untuk sembuh sangat kecil. Maaf, apakah saya bisa berbicara dengan orang tua pasien?"
"Iya dok. Saya ayahnya,"
"Mari pak. Ikut saya. Ada beberapa hal yang harus saya bicarakan."
***
~Di ruang dokter~
"Maaf pak, saya harus mengatakannya." Dokter itu berhenti sejenak dan menarik nafas,"Sepertinya hidup anak bapak tidak akan lama lagi. Penyakit anak bapak ini sudah sangat akut. Dan ini baru diketahuinya. Sebenarnya jika dari enam bulan yang lalu, kita memberikan perawatan dan pengobatan, bisa saja anak bapak sembuh dari penyakit kanker yang sungguh tidak dimungkinkan lagi akan sembuh dalam beberapa jam ini. Tapi,anak bapak ini sungguh kuat. Jika keadaannya membaik, ia masih tetap bisa hidup untuk beberapa hari kedepan. Tapi, semua ini adalah takdir tuhan. Saya juga berharap ia bisa hidup untuk waktu yang lama. Serahkan semuanya pada tuhan pak," dokter itu menjelaskan panjang lebar.
Ayah Soon Hee mengangguk mengerti. Setelah selesai pembicaraan mereka, ayah Park Soon Hee keluar menuju ruang ICU.
***
Tae Woo berlari terbirit-birit sepanjang perjalanannya dari tempat parkir menuju ke ruang ICU. Sesampainya di depan ruangan itu, ia bertemu dengan keluarga Park Soon Hee. Paman Soon Hee menyuruh Tae Woo masuk.
Ia pun masuk. Dan di ruangan itu sudah ada ibu Soon Hee yang menangis dan memegangi tangan Soon Hee. Kuat. Sangat kuat sekali. Sampai Tae Woo pun melihat tangan mereka berdua memerah karena cengkeraman yang kuat itu.
Menyadari bahwa Tae Woo ada di ruangan itu, ibu Soon Hee keluar. Dan mempersilahkan Tae Woo untuk duduk di kursi dekat tempat tidur Soon Hee.
"Sayang, kamu bilang kamu mau mendengarkan laguku ? Kenapa kamu malah terbaring disini. Cepatlah bangun." Tae Woo mulai menitikkan air matanya.
"Cepatlah bangun. Dan setelah sembuh nanti kita akan menikah. Dan kamu akan menjadi istri seorang penyanyi terkenal ini. Dan aku juga akan menjadi seorang suami untuk penulis terkenal sepertimu. Kembalilah, dan kau bilang kau akan menuliskan kisah hidupmu," Tae Woo menggenggam tangan Soon Hee. Sesekali ia mengusap tangan kekasihnya itu dan menciumnya.
"Kamu bilang, kelak jika kita telah menikah dan punya anak, kamu akan mengajari banyak hal padanya. Dan akan mewariskan bakat kita kepadanya." Air mata Tae Woo bercucuran tanpa berhenti.
"Kamu lupa dengan semua janji dan impian kita? Kadang ada orang yang bilang, cinta itu bisa membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dan sekarang, akan kubuktikan kata-kata itu. Aku tulus mencintaimu. Apapun itu, apapun yang harus aku lakukan untuk menebus nyawamu, akan kulakukan. Jika kamu tidak mungkin bangun lagi, aku akan membuatmu bangun dengan kekuatan cinta kita. Dan aku tau, tuhan pasti melihat seberapa besar cinta kita."
Tiba-tiba saja, Soon Hee menitikkan air matanya.
"Kau mendengarkanku? Tunggu sebentar, akan aku nyanyikan sebuah lagu untukmu" alex bersemangat sekali. Ia keluar dan melihat seorang pria membawa gitar. Kemudian ia meminjamnya dari pria itu.
Ia memasuki ruang ICU lagi dan duduk di tempatnya tadi. Kemudian ia mulai memetik gitarnya. Lalu ia menyanyikan sebuah lagu.
There's nothing I could say to you
There's nothing able to relieve my love for you
Do not ever leave me
I can breathe here because you're here with me
And I don't know what I would do if you weren't here with me
Stay with me
I need you here, beside me
Undergoing my days with you
Passing all trials with you
Please, stay with me
And God will let us together
Running our destiny to be together
Tae Woo mengakhiri lagunya dengan tetesan air mata. Tiba-tiba saja, jari tangan Soon Hee mulai bergerak. Tae Woo sungguh kaget. Ia menggenggam tangan kekasihnya itu dan berdoa kepada Tuhan untuk kebaikan cinta mereka.
Mata Soon Hee sedikit demi sedikit terbuka. Ia menyunggingkan senyumnya. Walaupun tak terlihat jelas, tapi Tae Woo tau kalau Soon Hee sedang tersenyum kepadanya.
"A-apa-apakah aku te-tetap cantik?" Tanya Soon Hee sedikit terbata-bata.
"Apa maksudmu? Kau masih saja bercanda disaat-saat seperti ini. Kau lihat, walaupun kau pucat, hidungmu ditutupi dengan tabung-tabung oksigen, kau tetap cantik." Tae Woo tersenyum.
"Bertahanlah. Aku yakin kau itu kuat. Aku yakin kau akan sembuh dalam beberapa hari saja,"
Soon Hee mengangguk. Tae Woo kembali menitikkan air matanya. Kemudian ia membisikkan sesuatu kepada Soon Hee,"aku sangat mencintaimu". Tae Woo mencium kening Soon Hee.
Tuuuuttttttt.....
Suara itu terdengar dari monitor pendeteksi detak jantung yang berada di sebelah kanan tempat tidur Soon Hee. Tae Woo langsung berlari keluar memanggil dokter.
***
Setelah dokter keluar dari ruang ICU tersebut,ia berkata "Maaf pak, anak bapak tidak bisa kami selamatkan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi tuhan berkehendak lain. Maafkan saya pak. Saya permisi"
Semua keluarga Soon Hee menangis. Mereka benar-benar terkejut. Soon Hee bisa pergi secepat itu. Terutama orang tua Park Soon Hee. Mereka berdua sangat-sangat menyayangi Soon Hee. Dan Tae Woo, saat ini ia tidak tau lagi harus bagaimana. Satu-satunya wanita yang dicintainya telah pergi. Ia benar-benar mencintai kekasihnya yang sudah pergi itu. Mungkin akan sulit baginya mencari sosok lain untuk pendamping hidupnya.
***
Seiring berjalannya waktu, orang tua Soon Hee mulai menerima kepergian anak mereka. Mereka sudah merelakannya pergi.
Dan Tae Woo. Ia masih sering berkunjung ke rumah orang tua Soon Hee. Ia selalu baik kepada keluarga Soon Hee. Untuk saat ini, ia belum ingin mencari pengganti Soon Hee. Baginya, Park Soon Hee itu adalah segalanya. Kalaupun ada yang tuhan takdirkan kepadanya, ia akan menerimanya.
TAMAT

0 komentar:
Posting Komentar