Rabu, 17 Februari 2016

, , , ,

TAJUK RENCANA


A.    Pengertian Tajuk Rencana
Tajuk rencana merupakan karya tulis semi ilmiah yang dibuat oleh pemimpin redaksi atau editor terhadap isu yang menjadi isu pokok yang dibahas dalam surat kabar tersebut. Tajuk rencana disebut juga editorial. Tulisan tajuk rencana berisi tulisan mengenai sudut pandang atau ulasan atau komentar editor terhadap isu yang sedang hangat atau berita utama pada surat kabar yang diterbitkan. Kenapa tajuk rencana disebut tuisan semi ilmiah, karena dalam tajuk rencana menyajikan fakta yang aktual yang benar-benar terjadi kemudian fakta tersebut ditanggapi oleh editor tentu dalam sudut pandangnya guna menginformasikan harapan kepada pembaca.

B.     Hal-hal yang Berkaitan dengan Tajuk Rencana
1.      Tajuk rencana dapat dengan mudah dikenali karena memiliki ciri yang khas, antara lain:
a.       Merupakan tulisan pendek.
b.      Tergolong prosa nonfiktif semi-ilmiah, karena isu-isu yang ada adalah isu faktual (nyata).
c.       Hanya dimuat di surat kabar.
d.      Gaya bahasa yang formal.
e.       Tajuk recana berisi opini kepala redaksi surat kabar terhadap suatu isu yang sedang hot.
f.       Tulisan tajuk rencana dmaksudnya untuk memberikan pandangan kepada masyarakat serta bermaksud untuk mengajak masyarakat tertarik dengan isu yang sedang diperbincangkan.
2.      Penulisan tajuk rencana memiliki beberapa tujuan, yaitu:
a.       Mengajak masyarakat (pembaca) untuk ikut berpikir dalam masalah (isu/topik) yang sedang hangat terjadi di kehidupan sekitar. 
b.      Memberikan pandangan kepada masyarakat terhadap isu yang sedang berkembang.
3.      Ada beberapa aturan dalam menulis tajuk rencana yang harus dipatuhi, yaitu: 
a.       Data/informasi yang disajikan adalah fakta, nyata, apa adanya.
b.      Penulis harus jujur dan mampu menganalisis isu yang sedang berkembang serta solusinya.
c.       Kesimpulan yang akan diputuskan harus bersifat objektif didasarkan pada data-data yang formal.
d.      Tidak ingin mengambil keuntungan untuk pribadi dari masalah yang dibahas.
e.       Memverifikasi kesimpulan sebelum di publish, hal ini untuk mengurangi kesalahpahaman.
f.       Menanggapi perbedaan pendapat dengan santun. 
4.      Hal-hal yang harus dipertimbangkan sebagai bahan pertimbangan materi tajuk rencana yang hendak ditulis:
a.       Mengungkapkan peristiwa/isu/topik yang faktual (nyata)
b.      Materi bersifat menjelaskan, artinya materi yang disajikan menceritakan kronologi terjadinya peristiwa
c.       Tajuk rencana merupakan sebuah bujukan. Materi-materi yang disampaikan dalam tajuk rencana bersifat bujukan, agar masyarakat ikut terlibat dalam pemikiran yang sama untuk suatu isu.
d.      Materi tajuk dapat juga berupa pujian untuk memuji hasil kinerja seseorang, kelompok, atau pemerintah. 
e.       Materi tajuk bersifat menghibur dengan selingan lelucon.
5.      Seperti pada karya sastra formal lainnya, tajuk rencana yang merupakan tulisan semi-ilmiah memiliki beberapa aturan atau format yang hendak ditulis. Berikut penjelasannya:
a.       Judul, terkait dengan topik/ isu yang hendak dibahas
b.      Latar belakang. menjelaskan sepintas akan isu/ topik.
c.       Tokoh. Mengungkapkan tokoh-tokoh yang terkait (opsional).
d.      Masalah. Mengutarakan masalah yang terjadi dalam isu.
e.       Peristiwa, hal-hal yang terjadi pada isu.
f.       Opini penulis terkait dengan isu tersebut.
g.      Saran  terhadap permasalahan yang muncul pada isu tersebut.
h.      Kesimpulan, ringkasan dari pembahasan.
i.        Anggota redaksi, mengenakan tim yang terlibat dalam pemberitaan dalam surat kabar.

C.    Contoh Tajuk Rencana:

Perhatikan Kualitas Pendidikan di Tanah Air

Minggu-minggu ini orang tua mungkin disibukkan dengan berbagai urusan yang berkaitan dengan kelanjutan pendidikan. Sebagian bisa saja susah ketika menghadapi kenyataan biaya pendidikan ternyata tinggi, bisa juga ada yang terkejut karena anaknya tidak lolos akibat nilai ujian nasional tidak memenuhi standar. Hal terakhir inilah yang barangkali cukup banyak dijumpai di masyarakat. Penerimaan siswa yang semata-mata didasarkan atas nilai ujian nasional, banyak yang disesalkan sekarang. Kontroversi tentang ujian nasional itu sudah berlangsung sejak lama dan dipandang tidak fair untuk merekrut anak didik baru. Tetapi inilah yang terjadi di Indoneisa sekarang.
Mungkin saja beberapa tempat pelaksanaan dari ujian nasional tersebut berlangsung fair dan tertib. Akan tetapi di beberapa tempat lain berlangsung tidak sesuai dengan rencana. Beberapa rumor pernah mengatakan bahwa kunci jawaban telah bocor dan tersebar di masyarakat. Rumor yang mengatakan beberapa guru sengaja membuatkan jawaban kepada siswa, bukan saja agar siswanya mampu mendapatkan nilai tinggi, tetapi demi mendongkrak reputasi lembaganya. Cara-cara seperti ini tentu saja tidak fair dan tidak adil. Kalau misalnya hal terakhir ini terjadi, sangat mungkin anak yang suka bolos, berandalan, dan tidak pintar bisa lolos dengan nilai tinggi. Penerimaan siswa baru yang di dasarkan semata-mata atas nilai ujian nasional, sangat tidak mencerminkan keadilan. Sungguh kasihan anak-anak yang berprestasi dan belajar sungguh-sungguh bertahun-tahun ditumbangkan oleh mereka yang kebetulan mendapatkan kunci jawaban pada saat ujian nasional berlangsung sekitar 3 hari.
Catatan ini sengaja kita ulangi lagi, semata-mata demi tercapainya rasa keadilan dalam pendidikan mumpung minggu ini para orangtua dipusingkan oleh kegiatan yang berkaitan dengan urusan sekolah. Kita sering berbicara soal ketertingalan dengan negara lain di segala bidang. Satu muara jawaban dari persoalan itu adalah kualitas penyelenggaraan pendidikan kita. Penyelenggaraan pendidikan secara formal di Indonesia memang terletak pada sekolah atau lembaga pendidikan tertinggi. Termasuk juga kursus-kursus yang ada. Tetapi kita tetap mengakui bahwa penyelenggaraan pendidikan itu juga lingkungan dan keluarga. Karena berbagai pekerjaan dan karier di Indonesia ditentukan dengan cara-cara formal seperti menunjukkan ijazah, sertifikat, nilai raport, dan sejenisnya, maka mau tidak mau kita mengingatkan lembaga formal ini untuk memperbaiki diri.
Paling dasar sekali pada masalah pendidikan adalah kejujuran dan kemudian kreativitas yang mengembangkan kemampuan nalar peserta didik. Hanya dengan kejujuran dan pengembangan nalar itulah kita akan mampu membentuk manusia yang unggul dan mandiri dan mampu bersaing dengan pihak manapun dalam kehidupan ini. Mereka juga akan mampu menjadi filter di segala bidang demi kemajuan negara. Tetapi apabila kemudian pendidikan kita dihiasi dengan ketidakjujuran, bahkan dari jenjang pendidikan paling rendah, sungguh hasilnya akan merugikan di masa depan.
Pemerintah haruslah tahu dan memahami fenomena ini. Terhadap pelaksanaan ujian nasional, pemerintah harus langsung turun tangan ke bawah, bertanya ke masyarakat, kepada orang tua siswa, juga ke siswa. Tanyakan bagaimana ketegasan psikologis siswa ketika harus mengikuti ujian nasional, bertanyalah kepada orangtua tentang efektivitas ujian tersebut, untuk selanjutnya ambillah langkah yang tegas ketika misalnya ditemukan ketidakadilan dalam pelaksanaan ini.
Kita semua ingin agar negara ini menjadi maju, mampu bersaing di era globalisasi dalam bidang pendidikan. Dengan demikian, tidak ada cara yang lebih baik kecuali memberikan perhatian terhadap masalah pendidikan kita di tanah air.

Analisa :
a.       Opini dalam  tajuk rencana tersebut :
1)      Minggu-minggu ini orangtua mungkin disibukkan dengan berbagai urusan yang berkaitan dengan kelanjutan pendidikan.
2)      Kontroversi tentang ujian nasional itu sudah berlangsung sejak lama dan dipandang tidak fair untuk merekrut anak didik baru.
3)      Sungguh kasihan anak-anak yang berprestasi dan belajar sungguh-sungguh bertahun-tahun ditumbangkan oleh mereka yang kebetulan mendapatkan kunci jawaban pada saat ujian nasional berlangsung sekitar 3 hari.
b.      
Tujuan penulis:
Mengajak pemerintah dan lembaga pendidikan untuk lebih peduli terhadap pendidikan di Indonesia dengan melihat kejujuran dan ketidakjujuran nilai ujian nasional.

c.       Keberpihakan penulis :

Dalam tajuk rencana tersebut, penulis lebih berpihak kepada siswa yang tidak memakai kunci jawaban saat ujian nasional. Keberpihakan ini tidak ditunjukkan sepenuhnya, karena penulis lebih cenderung menonjolkan pihak-pihak yang harus memerhatikan permasalahan yang penulis sebutkan diatas. Pihak-pihak tersebut antara lain orang tua, siswa yang membeli kunci jawaban, dan pemerintah yang dianggap belum mengambil kebijakan apapun terkait kunci jawaban yang beredar di kalangan pelajar.

0 komentar:

Posting Komentar