"Zayn Malik Leaving One
Direction"
Tulisan dengan
font besar itu terpampang di halaman depan sebuah koran. Dibawahnya terdapat
sebuah gambar, sosok yang sangat aku idolakan. Ya, zayn malik. Berita itu layaknya
sebuah meteor besar yang mengerikan yang jatuh ke bumi dan meluluhlantakkan
semuanya. Sejak berita itu tersebar, rasanya hidupku tak berguna lagi. Zayn
Malik adalah sosok yang sangat aku kagumi. Aku belajar banyak darinya. Dia yang
berjuang dengan segala cemoohan diluar sana, yang menganggapnya sebagai
teroris. Dia yang selalu mencintai keluarganya dan berusaha membanggakan orang
tuanya. Dia menunjukkan ke dunia dengan talentanya yang luar biasa itu. Betapa dunia dan orang-orang yang tidak
menyukainya sangat rugi. Sosok emas yang indah itu seharusnya tetap bersama One
Direction, band yang membawanya ke dunia internasional. Seharusnya ia tetap
bersama keempat permata indah lainnya, yaitu niall, harry, louis, dan liam.
Rasanya One
Direction agak berbeda bila tanpa Zayn Malik. Tidak ada lagi high-notes dalam
lagu You & I, tidak ada lagi 'vas happenin', tidak ada zouis, tidak ada lagi bradford badboy.
Semua kata 'tidak ada' itu sungguh menyakitkan. Dan pada akhirnya aku harus
menerima kenyataan bahwa idolaku memang tidak ada lagi di grup One Direction.
***
Hari itu matahari di Kota London
sangat terik. Panasnya seakan ingin membakar semangat setiap orang yang sedang
sibuk di luar rumah. Harusnya hari ini aku bersantai di rumah karena aku
mengambil cuti untuk pekerjaan sebagai desainer. Tapi, si Huge Boss yang sangat
galak itu menyuruhku ke butiknya untuk menyiapkan pakaian seorang artis.
Butiknya memang sangat terkenal dikalangan artis dan pejabat. Banyak sekali
artis yang telah datang ke butik "TOPSHOP", diantaranya ada Ariana
Grande, Taylor Swift, Justin Bieber, Avril Lavigne, Bruno Mars, Westlife, dan
artis asia seperti Mario Maurer, Lee Min Ho, Park Shin Hye, dan artis lainnya
yang menjadi langganan di butik tersebut. Tentunya One Direction adalah salah
satu langganan mereka.
Aku berjalan menyusuri trotoar
dengan gedung-gedung tinggi disebelah kanan dan kiriku. Jalan yang dipenuhi
dengan mobil-mobil mewah. Dan beberapa turis mancanegara yang berjalan
beriringan denganku. Pemandangan ini tak mengherankan bagiku. Sejak empat tahun terakhir aku telah tinggal di London. Aku sebelumnya tinggal di
Indonesia. Aku lahir dari seorang ibu yang berstatus warga negara Inggris dan
ayahku orang Indonesia. Mereka bertemu di University of Edinburgh. Ibuku dengan
jurusan art&design, dan ayah jurusan sastra inggris. Sebenarnya ayah disana
karena ada pertukaran pelajar. Akhirnya mereka saling jatuh cinta dan lahirlah
aku dan adik perempuanku yang kini berusia 15 tahun. Sejak lahir hingga usia 5
tahun aku tinggal di tanah kelahiranku, yaitu London. Namun keluarga ayah ingin
melihatku dan aku dibawa pulang ke Indonesia. Selama 12 tahun aku hidup di
tempat kelahiran ayah. Aku mengikuti kelas akselerasi, sehingga saat usiaku 17
tahun aku sudah masuk kuliah dan berkuliah di universitas yang sama dengan
kedua orang tuaku. Aku menyelesaikan kuliahku di jurusan desain selama 4 tahun.
Setelah lulus, dengan cepat aku menemukan pekerjaan. Butik inilah yang menjadi
tempat pertamaku bekerja. Pemilik butik ini adalah adik perempuan ibuku. Aku
sering memanggilnya Huge Boss karena dia besar dan tinggi meskipun dia seorang
wanita. Tapi dia itu sangat baik dan perhatian pada karyawan-karyawannya. Tentu
saja tidak untuk saat ini. Karena hari liburku yang seharusnya untuk tidur
justru di manfaatkan olehnya agar aku bekerja. Aku sudah sangat sukses dengan
bekerja disini. Sebenarnya aku bisa saja membuka butik sendiri dengan
desain-desain yang kubuat, tapi ibuku bilang untuk sementara tetaplah bekerja
dengan dia. Itulah yang dikatakan ibuku seminggu yang lalu. Baiklah, aku turuti
saja.
Dan pada akhirnya memang aku
bertemu dengan One Direction di butik tersebut. Aku sangat senang sekali
melihat mereka. Berfoto, tanda tangan, berbincang-bincang bahkan menyentuh
beberapa bagian tubuh mereka untuk ku ambil ukurannya. Wah, senang rasanya.
Mereka juga tahu bahwa aku telah menyukai mereka sejak mereka tampil di X
Factor. Yah, kurang lebih lima tahun lah.
Aku kembali fokus ke jalanan yang
sedang aku lalui. Dan sampailah di butik "TOPSHOP". Sebuah mobil
Bentley Contintental GT warna hitam terparkir didepan butik. Rasanya aku kenal
dengan mobil itu, pikirku.
Aku masuk melalui pintu depan dan
menyapa karyawan lainnya. Walaupun statusku juga karyawan tapi aku ini semacam
di anak-emaskan oleh Bibi Rose, nama boss-ku alias saudara ibuku. Butik ini
terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama untuk pembeli biasa, lantai kedua
untuk tamu istimewa seperti artis, dan lantai ketiga layaknya rumah kedua untuk
Bibi Rose.
Aku menaiki tangga ke lantai dua.
Lalu menemukan Bibi Rose sedang mondar mandir di depan pintu dengan wajah cemas
dan khawatir. Gerakannya berhenti ketika melihatku sampai di anak tangga yang
terakhir. Seketika ia mengejar dan memelukku.
"Untunglah kau datang. Aku
tidak tau lagi siapa yang melayani tamu kita di dalam selain kau. Ayo cepat
masuk dan tunjukkan desain-desainmu padanya," Bibi Rose mendorong
punggungku masuk ke dalam ruangan VIP untuk tamu istimewa.
Kemudian aku masuk dan melihat
sosok maskulin itu. Selama hampir tiga minggu tidak pernah muncul di televisi,
tidak pernah menyapa penggemar di akun media sosialnya, kini dia berdiri di
dekat kaca besar yang terletak di sisi depan ruangan itu. Ia mengamati jalanan
kota London dibawahnya melalui kaca besar tersebut. Ia terlihat lebih muda
dengan memotong janggut dan kumisnya.
Setelah menyadari ada seseorang
yang masuk, ia menoleh dan tersenyum. Aku tergagap diberikan senyuman hangat
semacam itu. Lalu aku berkata dengan suara agak bergetar, "Zayn... Malik.”
Aku masih tidak percaya melihatnya. Walaupun aku sudah beberapa kali melihatnya
tapi ini adalah pertama kalinya setelah berita itu muncul.
Zayn berjalan mendekat lalu duduk
disalah satu sofa yang ada di ruangan itu. Melihat kenyataan bahwa diruangan itu
hanya ada Zayn, dan tidak ada the boys yang lain membuatku sedih. Benar, hanya
ada Zayn. Manager atau asistennya yang biasa mendampingi pun tidak ada.
"Maaf terlalu lama menunggu,
saya akan mengambilkan beberapa pakaian untuk Anda coba," aku beranjak
dari tempatku berdiri dan hendak melangkah masuk ke ruang penyimpanan baju tapi
Zayn menghentikanku.
"Tidak usah. Duduklah. Aku
ingin bicara sebentar," Zayn menepuk-nepuk sofa di sampingnya.
Aku bingung dengan perkataannya.
Tapi akhirnya aku hanya menurut saja.
"Aku tidak tau harus cerita
ke siapa. Aku juga tidak tau sebenarnya keputusanku ini benar atau tidak.
Menurutmu aku harus bagaimana?" Zayn menatapku lekat.
Ah, aku bisa meleleh melihat
tatapannya itu. "Kau bilang kau ingin hidup normal layaknya manusia pada
umumnya. Jadi sekarang kau bisa memiliki kehidupan yang seperti itu, iya
kan?"
"Lalu, apa menurutmu
keputusanku salah?" Tanya zayn lagi.
Aku berpikir sejenak, lalu
berkata,"One Direction without you.. It looks so wrong. Mereka tidak akan
pernah sama tanpamu, Zayn. Aku tidak yakin keputusan itu salah atau benar. Jika
keputusanmu itu salah, kau bisa kembali dengan mereka lagi. Mereka akan selalu
menerimamu kapanpun. Aku selalu mendukung keputusanmu, Zayn."
Zayn tidak menanggapi
perkataanku, tapi kini ia bersedih hendak menitikkan air matanya. "Aku
sedih melihat para fans yang memintaku untuk kembali, yang menyayangkan
kepergianku ini. Dan semakin kesini, hidupku justru terasa semakin salah tanpa
ada mereka," Zayn akhirnya benar-benar menangis.
Ia memandangku sejenak dan
berkata,"Aku sangat cengeng ya"
Aku mengelus bahunya,"Tidak
apa-apa. Jika kau ingin menangis, menangislah."
Kemudian setelah tiga puluh menit
berlalu, Zayn benar-benar berhenti menangis.
"Sudah merasa baikan?"
tanyaku.
Ia mengangguk dan memelukku
sambil berbisik, "Terima kasih".
Jantungku berhenti berdetak
seketika itu juga. Ini bukan hanya perasaan suka dengan idola, aku yakin ini
perasaan suka yang sesungguhnya.
Zayn melepaskan pelukannya dan
berkata, "Kau bisa bernafas sekarang".
Rupanya dia tau aku sedang
menahan nafas tadi. Ah, aku malu sekali. Pasti wajahku sudah mirip kepiting
rebus.
Dia berdehem pelan untuk
menghilangkan suasana tidak nyaman ini. "Aku akan bertanya sekali lagi,
menurutmu apa aku harus kembali kepada mereka?"
Aku menghembuskan nafas pelan,
lalu menjawab, "Sebelum aku memberikan jawabannya aku akan membuat
pengakuan sedikit. Aku menyukaimu. Aku menyukai suara emasmu. Aku menyukai
penampilanmu. Aku menyukaimu karena kamu sangat menyayangi keluargamu. Aku menyukaimu karena kamu mau bertahan sampai sekarang. Walaupun kamu sudah
tidak menjadi bagian mereka dalam penglihatanku, tapi kamu tetap ada di dalam
hatiku. Meskipun ada beberapa orang di dunia ini yang tidak menyukaimu dan
menganggapmu sebagai suatu hal yang tidak pantas di kota ini atau bahkan di
dunia ini, aku akan selalu berada di pihakmu." Aku memandangnya sebentar
dan berkata lagi,"Jadi, jika kau bertanya apakah kau harus kembali pada
mereka? Kurasa jawabanku adalah iya. Jangan
dengarkan komentar-komentar negatif tentang dirimu. Jadikan itu sebagai
penyemangat. Masih banyak yang lebih menyukaimu daripada yang membencimu. Tapi apabila kamu
menunjukkan ketulusanmu kepada dunia, aku yakin mereka akan tertarik dan
menyukaimu," aku mengakhiri perkataanmu dengan tersenyum ke arahnya. Dan
aku kembali melihat air matanya turun.
Dia memelukku lagi dan
mengatakan, "Terima kasih sekali. Akhirnya aku menemukan jawabannya."
Aku tersenyum, "Syukurlah.
Kuharap itu adalah yang terbaik untukmu, Zayn."
***
Pertemuan dengan Zayn minggu lalu
membuatku senang sekaligus sedih. Tapi lega rasanya bisa mengungkapkan semua
yang ada dipikiranku kepadanya. Setidaknya aku telah memberinya semangat dan
masukan walau itu cuma sedikit.
***
Tepat lima bulan sejak Zayn
keluar dari One Direction. Dan juga tepat setelah pertemuan itu, Zayn tidak
pernah lagi ke butik kami. Sore nanti aku akan menonton konser One Direction di
Ullevaal Stadion. Dan sejak tiga hari yang lalu aku sudah merengek kepada Bibi
Rose agar mengijinkanku libur hari ini. Dan berhasil. Saat ini aku tengah
menyiapkan pakaian dan aksesoris yang akan kukenakan nanti di konser. Berbagai
pernak-pernik One Direction berantakan di atas kasur. Ada syal, topi,
lightstick, poster, dan kaos. Jumlahnya sangat banyak. Syal ada 12, topi ada
30, lightstick berjumlah 8, poster hampir 50 tapi ada beberapa yang disimpan
dan ditempel di dinding, dan kaos yang jumlahnya sekitar 31, ada yang lengan
panjang-lengan pendek, warna putih-item-biru-merah.
Dan tidak hanya itu, rak buku
besar di samping kanan tempat tidurku, ada dua lusin buku tentang one direction
dan majalah-majalahnya yang aku koleksi. Butuh kerja keras untuk mengoleksi
semua itu.
Hhh, aku mendesah menyerah. Aku
terlalu pusing melihat tempat tidurku berantakan. Akhirnya aku memilih memakai
kaos putih bergambar 5 personil One Direction dengan syal merah yang
bertuliskan 'One Direction', lalu sepatu cat, jam tangan dan gelang One
Direction. Tak lupa membawa poster. Walaupun usiaku sudah 21 tahun~lumayan tua~
tapi aku masih terlihat muda dan memiliki energi anak muda. Saudara-saudaraku
saja mengira aku masih kuliah. Terbukti kalau aku memang tidak tua. Hehe..
***
Marianne,
salah seorang temanku yang juga directioner menjemputku ke apartemen dan
memberikan tumpangan untukku. Kami berangkat bersama. Sesampainya disana kami
melihat stadion itu ramai sekali. Padahal konser baru dimulai pukul 17.00 sore
nanti. Dan ini baru pukul 12.28 siang.
Setelah
menunggu sekitar empat jam, akhirnya gerbang stadion dibuka. Dan ratusan
penonton berusaha memasukinya dengan berdesak-desakan. Di dalam stadion sudah
tertata panggung yang mewah dengan layar besar di samping kanan kirinya dan
lampu-lampu yang menempel di atas panggung. Aku membeli tiket VVIP dan mendapat
tempat didepan panggung. Konser ini dibuka oleh band asal Australia bernama 5
Seconds Of Summer dengan single terpopulernya berjudul Amnesia.
Lima
belas menit berlalu sejak konser ini dimulai, One Direction baru muncul. Mereka
membawakan salah satu lagu hitsnya yaitu More Than This. Ada surprise yang tak
terduga, yaitu Zayn muncul dengan menyanyikan part-nya.
I've never had the words to say,
But now I'm askin' you to stay
For a little while inside my arms,
And as you close your eyes tonight,
I pray that you will see the light,
That's shining from the stars above
But now I'm askin' you to stay
For a little while inside my arms,
And as you close your eyes tonight,
I pray that you will see the light,
That's shining from the stars above
Seketika
itu juga penonton berteriak. Aku tak mau kalah. Dan tak kusadari ternyata aku
meneteskan air mata. “Zayn... Zayn....” teriakku. Setelah lagu itu selesai, Zayn
berkata, “I miss you and thank you for waiting”. Suara teriakan semakin
bertambah keras.
Sampai
lagu ketujuh, Zayn tetap bergabung dan ikut bernyanyi dengan One Direction.
Ketika mereka hendak berganti ke lagu yang ke delapan, Zayn berkata “Ada
seseorang yang membuatku berpikir untuk kembali kesini, untuk kembali ke
panggung dimana aku berdiri saat ini, untuk kembali menghibur kalian. Dia
sekarang ada disini. Dan dialah orang yang akhirnya membuatku jatuh cinta.”
“Wow,
who is she?” kata Louis.
“Aku
rasa dia tipeku juga,” ucap Harry sambil tersenyum.
“Aku
tidak akan menunjukkan siapa dia. Karena aku belum menembaknya secara langsung.
Aku tidak mau jika aku tunjukkan sekarang dan ternyata dia tidak menerimaku.
Aku pasti akan malu. Jadi tunggu saja,” lanjut Zayn membuat penonton penasaran.
Pernyataan
Zayn barusan membuatku terkejut. Sebentar lagi dia akan memiliki seorang pacar?
Antara perasaan senang dan sedih aku mendengarnya. Senang karena nanti akan ada
seseorang yang bisa memperhatikannya, dan sedih karena aku pikir aku
benar-benar telah menyukainya.
Pukul
20.00 malam konser telah selesai. Penonton berhamburan keluar dari stadion. Aku
dan Marianne juga berjalan menuju pintu keluar, lalu nada dering sms dari
handphone-ku berbunyi. Aku membukanya dan tertulis di layar “Please, come to
the backstage.”
“Mer,
kamu pulang dulu. Ada urusan yang harus kukerjakan dulu. Nanti aku akan naik
taksi,” kataku pada Marianne.
“Benarkah
kau tidak apa-apa naik taksi?” tanya Marianne khawatir.
“No
problem. Aku pergi dulu,” aku pun memutar langkahku kembali ke arah stadion.
Aku
hendak masuk ke backstage tapi ada dua penjaga disana. Aku bingung akan
mengatakan apa. Dan untungnya dari dalam ada Zayn muncul. Dia bicara kepada
kedua petugas itu dan akhirnya kedua petugas itu tersenyum dan membiarkanku
masuk.
Aku
dibawa olehnya ke sebuah ruangan dan disana ada the boys yang lain dan juga
manager-nya. Aku masih tidak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan Zayn,
tapi aku akhirnya tersenyum kepada mereka. Zayn menoleh kearahku dan
menunjukkan wajah seriusnya.
Dia
mulai berbicara, “Perkenalkan, dia adalah Renee Valesia. Dia seorang desainer
di butik TOPSHOP. Dan inilah orang yang aku ceritakan itu.”
Kelima
orang laki-laki di ruangan itu manggut-manggut mengerti. Kelihatannya hanya aku
seorang yang tidak mengerti semua ini. Lalu aku bertanya, “Apa maksudnya ini?”
“Renee,
kau adalah orang yang Zayn ceritakan tadi sewaktu di panggung. Tadi kau
menontonnya kan?” tanya Liam.
Aku
berusaha mencerna dan mengingat kejadian per kejadian di panggung. Aku terkejut
ketika aku mengingat tentang seseorang yang disukai Zayn. “Jadi, itu adalah..
aku?” tanyaku masih tak percaya.
Zayn
memintaku untuk berbincang-bincang dengan mereka dan ia akan segera berganti
pakaian untuk mengajakku makan malam. Itu yang dikatakannya padaku sebelum dia
pergi meninggalkan ruangan itu.
***
Zayn
mengajakku keluar dari ruangan itu dan memberi jaketnya untuk menutupi wajahku.
Dia bilang, “Sebelum kau terlihat cantik, kau tidak boleh meperlihatkan batang
hidungmu ke media.” Aku sedikit kesal ucapannya itu. Tapi aku yakin itu hanya
bercanda.
Aku
masuk ke mobil asistennya dan kami berdua duduk di kursi penumpang. Mobil
melaju ke sebuah toko yang sangat terkenal, toko yang masih sangat bagus
dibandingkan dengan butik milik bibi-ku. Kami masuk dan sudah ada pelayan toko
yang mengerti kedatangan kami. Lalu pelayan toko tersebut mengarahkanku untuk
masuk ke ruangan. Lalu aku diberi sebuah gaun warna peach yang indah dengan
panjang semata kaki. Setelah pelayan toko itu selesai merapikan pakaianku, ia
mengajakku keluar dan bertemu dengan Zayn.
Zayn
terpukau melihat gaun yang kukenakan. Ia tersenyum dan meraih tanganku,
kemudian melingkarkan tanganku ke lengannya. “Zayn, kita mau kemana?” tanyaku.
“Bersiaplah,
karena aku akan menunjukkanmu kepada dunia. Dan aku mengatakan sesuatu yang
penting untukmu nanti,” Zayn kembali membuatku penasaran.
***
Kami
turun dari mobil hitam milik asistan Zayn dan masuk ke sebuah restoran mewah di
kota London ini. Restoran dengan interior klasik itu membuatku terpana.
Pengunjung yang ada disana hanya beberapa orang saja. Makanan di restoran ini
pasti sangat mahal. Lagi-lagi, kami disambut oleh seorang pelayan. Dan ia
mengantarkan kami ke salah satu meja yang berada dekat dengan pemain musik
klasik. Pelayan itu pergi dan kembali lagi dengan membawakan makanan.
Zayn
mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak warna merah yang
didalamnya berisi cincin. Ia menujukkannya padaku sambil berkata, “Terimalah
aku”.
Aku
pun tersentak kaget. Ucapan Zayn yang sangat singkat itu membuat jantungku
berdebar dan aku merasa sangat gugup. Aku masih tidak percaya Zayn menyatakan
perasaannya padaku dan kini memintaku untuk menerimanya.
“Aku
sungguh-sungguh menyukaimu. Kau satu-satunya orang yang mampu membuatku nyaman,”
Zayn menatap kedua mataku dengan hangat.
Aku
pun mengangguk pelan.
Zayn
menyematkan cincin itu ke jari manisku dan berkata, “Terima kasih, sayang. Apakah
tidak apa-apa jika hidupmu nanti akan sedikit terganggu karena pekerjaanku ini?”
“Tentu
saja tidak. Aku mampu menerima segala yang ada pada dirimu. Dan aku akan selalu
mendukungmu,” jawabku dengan perasaan bahagia.
Zayn
bangkit dari kursinya dan mendekatiku, kemudian ia mencium keningku dengan
lembut.
***
Judul ff ini sungguh nggak nyambung sama isinya. Habis gue bingung mau kasih judul apa. Dan itu judulnya juga semacam sebuah harapan, bahwa Zayn Malik bakal kembali ke kamu (directioners & the boys).
Tulisan ini sebenarnya terinspirasi
oleh novel-nya Kak Ilana Tan yang berjudul “Summer In Seoul”. Yaitu tentang
seorang gadis biasa berprofesi sebagai desainer dan bertemu dengan penyanyi
bernama Jung Tae Woo. Tapi bedanya, kalau di novel Kak Ilana Tan tokoh ceweknya
nggak ngefans sama si penyanyi.
Novel itu sangat aku rekomendekasikan
banget deh. Jangan lupa, belinya sekalian satu paket, isinya novel tetralogi
empat musim karya Ilana Tan. Eh, beli dua paket ya.. buat aku sekalian. Mbak-mas
yang baik, cantik, ganteng, kalau bisa beliin aku juga yaa. Dulu pernah baca
tetralogi-nya tapi minjem temen. Sekarang pengen punya sendiri, apalagi cover
novelnya udah ganti tambah bagus. Yang baik hati, boleh dong kirimin paket
novel-nya ke rumahku. Hehe... Tak doain nanti disayang Tuhan dan masuk surga.
Amin J

0 komentar:
Posting Komentar