Rabu, 22 April 2015

,

Back For You


"Zayn Malik Leaving One Direction"
Tulisan dengan font besar itu terpampang di halaman depan sebuah koran. Dibawahnya terdapat sebuah gambar, sosok yang sangat aku idolakan. Ya, zayn malik. Berita itu layaknya sebuah meteor besar yang mengerikan yang jatuh ke bumi dan meluluhlantakkan semuanya. Sejak berita itu tersebar, rasanya hidupku tak berguna lagi. Zayn Malik adalah sosok yang sangat aku kagumi. Aku belajar banyak darinya. Dia yang berjuang dengan segala cemoohan diluar sana, yang menganggapnya sebagai teroris. Dia yang selalu mencintai keluarganya dan berusaha membanggakan orang tuanya. Dia menunjukkan ke dunia dengan talentanya yang luar biasa itu. Betapa dunia dan orang-orang yang tidak menyukainya sangat rugi. Sosok emas yang indah itu seharusnya tetap bersama One Direction, band yang membawanya ke dunia internasional. Seharusnya ia tetap bersama keempat permata indah lainnya, yaitu niall, harry, louis, dan liam.
Rasanya One Direction agak berbeda bila tanpa Zayn Malik. Tidak ada lagi high-notes dalam lagu You & I, tidak ada lagi 'vas happenin', tidak ada zouis, tidak ada lagi bradford badboy. Semua kata 'tidak ada' itu sungguh menyakitkan. Dan pada akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa idolaku memang tidak ada lagi di grup One Direction.
***
Hari itu matahari di Kota London sangat terik. Panasnya seakan ingin membakar semangat setiap orang yang sedang sibuk di luar rumah. Harusnya hari ini aku bersantai di rumah karena aku mengambil cuti untuk pekerjaan sebagai desainer. Tapi, si Huge Boss yang sangat galak itu menyuruhku ke butiknya untuk menyiapkan pakaian seorang artis. Butiknya memang sangat terkenal dikalangan artis dan pejabat. Banyak sekali artis yang telah datang ke butik "TOPSHOP", diantaranya ada Ariana Grande, Taylor Swift, Justin Bieber, Avril Lavigne, Bruno Mars, Westlife, dan artis asia seperti Mario Maurer, Lee Min Ho, Park Shin Hye, dan artis lainnya yang menjadi langganan di butik tersebut. Tentunya One Direction adalah salah satu langganan mereka.
Aku berjalan menyusuri trotoar dengan gedung-gedung tinggi disebelah kanan dan kiriku. Jalan yang dipenuhi dengan mobil-mobil mewah. Dan beberapa turis mancanegara yang berjalan beriringan denganku. Pemandangan ini tak mengherankan bagiku. Sejak empat tahun terakhir aku telah tinggal di London. Aku sebelumnya tinggal di Indonesia. Aku lahir dari seorang ibu yang berstatus warga negara Inggris dan ayahku orang Indonesia. Mereka bertemu di University of Edinburgh. Ibuku dengan jurusan art&design, dan ayah jurusan sastra inggris. Sebenarnya ayah disana karena ada pertukaran pelajar. Akhirnya mereka saling jatuh cinta dan lahirlah aku dan adik perempuanku yang kini berusia 15 tahun. Sejak lahir hingga usia 5 tahun aku tinggal di tanah kelahiranku, yaitu London. Namun keluarga ayah ingin melihatku dan aku dibawa pulang ke Indonesia. Selama 12 tahun aku hidup di tempat kelahiran ayah. Aku mengikuti kelas akselerasi, sehingga saat usiaku 17 tahun aku sudah masuk kuliah dan berkuliah di universitas yang sama dengan kedua orang tuaku. Aku menyelesaikan kuliahku di jurusan desain selama 4 tahun. Setelah lulus, dengan cepat aku menemukan pekerjaan. Butik inilah yang menjadi tempat pertamaku bekerja. Pemilik butik ini adalah adik perempuan ibuku. Aku sering memanggilnya Huge Boss karena dia besar dan tinggi meskipun dia seorang wanita. Tapi dia itu sangat baik dan perhatian pada karyawan-karyawannya. Tentu saja tidak untuk saat ini. Karena hari liburku yang seharusnya untuk tidur justru di manfaatkan olehnya agar aku bekerja. Aku sudah sangat sukses dengan bekerja disini. Sebenarnya aku bisa saja membuka butik sendiri dengan desain-desain yang kubuat, tapi ibuku bilang untuk sementara tetaplah bekerja dengan dia. Itulah yang dikatakan ibuku seminggu yang lalu. Baiklah, aku turuti saja.
Dan pada akhirnya memang aku bertemu dengan One Direction di butik tersebut. Aku sangat senang sekali melihat mereka. Berfoto, tanda tangan, berbincang-bincang bahkan menyentuh beberapa bagian tubuh mereka untuk ku ambil ukurannya. Wah, senang rasanya. Mereka juga tahu bahwa aku telah menyukai mereka sejak mereka tampil di X Factor. Yah, kurang lebih lima tahun lah.
Aku kembali fokus ke jalanan yang sedang aku lalui. Dan sampailah di butik "TOPSHOP". Sebuah mobil Bentley Contintental GT warna hitam terparkir didepan butik. Rasanya aku kenal dengan mobil itu, pikirku.
Aku masuk melalui pintu depan dan menyapa karyawan lainnya. Walaupun statusku juga karyawan tapi aku ini semacam di anak-emaskan oleh Bibi Rose, nama boss-ku alias saudara ibuku. Butik ini terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama untuk pembeli biasa, lantai kedua untuk tamu istimewa seperti artis, dan lantai ketiga layaknya rumah kedua untuk Bibi Rose.
Aku menaiki tangga ke lantai dua. Lalu menemukan Bibi Rose sedang mondar mandir di depan pintu dengan wajah cemas dan khawatir. Gerakannya berhenti ketika melihatku sampai di anak tangga yang terakhir. Seketika ia mengejar dan memelukku.
"Untunglah kau datang. Aku tidak tau lagi siapa yang melayani tamu kita di dalam selain kau. Ayo cepat masuk dan tunjukkan desain-desainmu padanya," Bibi Rose mendorong punggungku masuk ke dalam ruangan VIP untuk tamu istimewa.
Kemudian aku masuk dan melihat sosok maskulin itu. Selama hampir tiga minggu tidak pernah muncul di televisi, tidak pernah menyapa penggemar di akun media sosialnya, kini dia berdiri di dekat kaca besar yang terletak di sisi depan ruangan itu. Ia mengamati jalanan kota London dibawahnya melalui kaca besar tersebut. Ia terlihat lebih muda dengan memotong janggut dan kumisnya.
Setelah menyadari ada seseorang yang masuk, ia menoleh dan tersenyum. Aku tergagap diberikan senyuman hangat semacam itu. Lalu aku berkata dengan suara agak bergetar, "Zayn... Malik.” Aku masih tidak percaya melihatnya. Walaupun aku sudah beberapa kali melihatnya tapi ini adalah pertama kalinya setelah berita itu muncul.
Zayn berjalan mendekat lalu duduk disalah satu sofa yang ada di ruangan itu. Melihat kenyataan bahwa diruangan itu hanya ada Zayn, dan tidak ada the boys yang lain membuatku sedih. Benar, hanya ada Zayn. Manager atau asistennya yang biasa mendampingi pun tidak ada.
"Maaf terlalu lama menunggu, saya akan mengambilkan beberapa pakaian untuk Anda coba," aku beranjak dari tempatku berdiri dan hendak melangkah masuk ke ruang penyimpanan baju tapi Zayn menghentikanku.
"Tidak usah. Duduklah. Aku ingin bicara sebentar," Zayn menepuk-nepuk sofa di sampingnya.
Aku bingung dengan perkataannya. Tapi akhirnya aku hanya menurut saja.
"Aku tidak tau harus cerita ke siapa. Aku juga tidak tau sebenarnya keputusanku ini benar atau tidak. Menurutmu aku harus bagaimana?" Zayn menatapku lekat.
Ah, aku bisa meleleh melihat tatapannya itu. "Kau bilang kau ingin hidup normal layaknya manusia pada umumnya. Jadi sekarang kau bisa memiliki kehidupan yang seperti itu, iya kan?"
"Lalu, apa menurutmu keputusanku salah?" Tanya zayn lagi.
Aku berpikir sejenak, lalu berkata,"One Direction without you.. It looks so wrong. Mereka tidak akan pernah sama tanpamu, Zayn. Aku tidak yakin keputusan itu salah atau benar. Jika keputusanmu itu salah, kau bisa kembali dengan mereka lagi. Mereka akan selalu menerimamu kapanpun. Aku selalu mendukung keputusanmu, Zayn."
Zayn tidak menanggapi perkataanku, tapi kini ia bersedih hendak menitikkan air matanya. "Aku sedih melihat para fans yang memintaku untuk kembali, yang menyayangkan kepergianku ini. Dan semakin kesini, hidupku justru terasa semakin salah tanpa ada mereka," Zayn akhirnya benar-benar menangis.
Ia memandangku sejenak dan berkata,"Aku sangat cengeng ya"
Aku mengelus bahunya,"Tidak apa-apa. Jika kau ingin menangis, menangislah."
Kemudian setelah tiga puluh menit berlalu, Zayn benar-benar berhenti menangis.
"Sudah merasa baikan?" tanyaku.
Ia mengangguk dan memelukku sambil berbisik, "Terima kasih".
Jantungku berhenti berdetak seketika itu juga. Ini bukan hanya perasaan suka dengan idola, aku yakin ini perasaan suka yang sesungguhnya.
Zayn melepaskan pelukannya dan berkata, "Kau bisa bernafas sekarang".
Rupanya dia tau aku sedang menahan nafas tadi. Ah, aku malu sekali. Pasti wajahku sudah mirip kepiting rebus.
Dia berdehem pelan untuk menghilangkan suasana tidak nyaman ini. "Aku akan bertanya sekali lagi, menurutmu apa aku harus kembali kepada mereka?"
Aku menghembuskan nafas pelan, lalu menjawab, "Sebelum aku memberikan jawabannya aku akan membuat pengakuan sedikit. Aku menyukaimu. Aku menyukai suara emasmu. Aku menyukai penampilanmu. Aku menyukaimu karena kamu sangat menyayangi keluargamu. Aku menyukaimu karena kamu mau bertahan sampai sekarang. Walaupun kamu sudah tidak menjadi bagian mereka dalam penglihatanku, tapi kamu tetap ada di dalam hatiku. Meskipun ada beberapa orang di dunia ini yang tidak menyukaimu dan menganggapmu sebagai suatu hal yang tidak pantas di kota ini atau bahkan di dunia ini, aku akan selalu berada di pihakmu." Aku memandangnya sebentar dan berkata lagi,"Jadi, jika kau bertanya apakah kau harus kembali pada mereka? Kurasa jawabanku adalah iya. Jangan dengarkan komentar-komentar negatif tentang dirimu. Jadikan itu sebagai penyemangat. Masih banyak yang lebih menyukaimu daripada yang membencimu. Tapi apabila kamu menunjukkan ketulusanmu kepada dunia, aku yakin mereka akan tertarik dan menyukaimu," aku mengakhiri perkataanmu dengan tersenyum ke arahnya. Dan aku kembali melihat air matanya turun.
Dia memelukku lagi dan mengatakan, "Terima kasih sekali. Akhirnya aku menemukan jawabannya."
Aku tersenyum, "Syukurlah. Kuharap itu adalah yang terbaik untukmu, Zayn."
***
Pertemuan dengan Zayn minggu lalu membuatku senang sekaligus sedih. Tapi lega rasanya bisa mengungkapkan semua yang ada dipikiranku kepadanya. Setidaknya aku telah memberinya semangat dan masukan walau itu cuma sedikit.
***
Tepat lima bulan sejak Zayn keluar dari One Direction. Dan juga tepat setelah pertemuan itu, Zayn tidak pernah lagi ke butik kami. Sore nanti aku akan menonton konser One Direction di Ullevaal Stadion. Dan sejak tiga hari yang lalu aku sudah merengek kepada Bibi Rose agar mengijinkanku libur hari ini. Dan berhasil. Saat ini aku tengah menyiapkan pakaian dan aksesoris yang akan kukenakan nanti di konser. Berbagai pernak-pernik One Direction berantakan di atas kasur. Ada syal, topi, lightstick, poster, dan kaos. Jumlahnya sangat banyak. Syal ada 12, topi ada 30, lightstick berjumlah 8, poster hampir 50 tapi ada beberapa yang disimpan dan ditempel di dinding, dan kaos yang jumlahnya sekitar 31, ada yang lengan panjang-lengan pendek, warna putih-item-biru-merah.
Dan tidak hanya itu, rak buku besar di samping kanan tempat tidurku, ada dua lusin buku tentang one direction dan majalah-majalahnya yang aku koleksi. Butuh kerja keras untuk mengoleksi semua itu.
Hhh, aku mendesah menyerah. Aku terlalu pusing melihat tempat tidurku berantakan. Akhirnya aku memilih memakai kaos putih bergambar 5 personil One Direction dengan syal merah yang bertuliskan 'One Direction', lalu sepatu cat, jam tangan dan gelang One Direction. Tak lupa membawa poster. Walaupun usiaku sudah 21 tahun~lumayan tua~ tapi aku masih terlihat muda dan memiliki energi anak muda. Saudara-saudaraku saja mengira aku masih kuliah. Terbukti kalau aku memang tidak tua. Hehe..
***
     Marianne, salah seorang temanku yang juga directioner menjemputku ke apartemen dan memberikan tumpangan untukku. Kami berangkat bersama. Sesampainya disana kami melihat stadion itu ramai sekali. Padahal konser baru dimulai pukul 17.00 sore nanti. Dan ini baru pukul 12.28 siang.
         Setelah menunggu sekitar empat jam, akhirnya gerbang stadion dibuka. Dan ratusan penonton berusaha memasukinya dengan berdesak-desakan. Di dalam stadion sudah tertata panggung yang mewah dengan layar besar di samping kanan kirinya dan lampu-lampu yang menempel di atas panggung. Aku membeli tiket VVIP dan mendapat tempat didepan panggung. Konser ini dibuka oleh band asal Australia bernama 5 Seconds Of Summer dengan single terpopulernya berjudul Amnesia.
     Lima belas menit berlalu sejak konser ini dimulai, One Direction baru muncul. Mereka membawakan salah satu lagu hitsnya yaitu More Than This. Ada surprise yang tak terduga, yaitu Zayn muncul dengan menyanyikan part-nya.

I've never had the words to say,
But now I'm askin' you to stay
For a little while inside my arms,
And as you close your eyes tonight,
I pray that you will see the light,
That's shining from the stars above

    Seketika itu juga penonton berteriak. Aku tak mau kalah. Dan tak kusadari ternyata aku meneteskan air mata. “Zayn... Zayn....” teriakku. Setelah lagu itu selesai, Zayn berkata, “I miss you and thank you for waiting”. Suara teriakan semakin bertambah keras.
      Sampai lagu ketujuh, Zayn tetap bergabung dan ikut bernyanyi dengan One Direction. Ketika mereka hendak berganti ke lagu yang ke delapan, Zayn berkata “Ada seseorang yang membuatku berpikir untuk kembali kesini, untuk kembali ke panggung dimana aku berdiri saat ini, untuk kembali menghibur kalian. Dia sekarang ada disini. Dan dialah orang yang akhirnya membuatku jatuh cinta.”
            “Wow, who is she?” kata Louis.
            “Aku rasa dia tipeku juga,” ucap Harry sambil tersenyum.
         “Aku tidak akan menunjukkan siapa dia. Karena aku belum menembaknya secara langsung. Aku tidak mau jika aku tunjukkan sekarang dan ternyata dia tidak menerimaku. Aku pasti akan malu. Jadi tunggu saja,” lanjut Zayn membuat penonton penasaran.
           Pernyataan Zayn barusan membuatku terkejut. Sebentar lagi dia akan memiliki seorang pacar? Antara perasaan senang dan sedih aku mendengarnya. Senang karena nanti akan ada seseorang yang bisa memperhatikannya, dan sedih karena aku pikir aku benar-benar telah menyukainya.
            Pukul 20.00 malam konser telah selesai. Penonton berhamburan keluar dari stadion. Aku dan Marianne juga berjalan menuju pintu keluar, lalu nada dering sms dari handphone-ku berbunyi. Aku membukanya dan tertulis di layar “Please, come to the backstage.”
            “Mer, kamu pulang dulu. Ada urusan yang harus kukerjakan dulu. Nanti aku akan naik taksi,” kataku pada Marianne.
            “Benarkah kau tidak apa-apa naik taksi?” tanya Marianne khawatir.
            “No problem. Aku pergi dulu,” aku pun memutar langkahku kembali ke arah stadion.
            Aku hendak masuk ke backstage tapi ada dua penjaga disana. Aku bingung akan mengatakan apa. Dan untungnya dari dalam ada Zayn muncul. Dia bicara kepada kedua petugas itu dan akhirnya kedua petugas itu tersenyum dan membiarkanku masuk.
            Aku dibawa olehnya ke sebuah ruangan dan disana ada the boys yang lain dan juga manager-nya. Aku masih tidak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan Zayn, tapi aku akhirnya tersenyum kepada mereka. Zayn menoleh kearahku dan menunjukkan wajah seriusnya.
            Dia mulai berbicara, “Perkenalkan, dia adalah Renee Valesia. Dia seorang desainer di butik TOPSHOP. Dan inilah orang yang aku ceritakan itu.”
            Kelima orang laki-laki di ruangan itu manggut-manggut mengerti. Kelihatannya hanya aku seorang yang tidak mengerti semua ini. Lalu aku bertanya, “Apa maksudnya ini?”
        “Renee, kau adalah orang yang Zayn ceritakan tadi sewaktu di panggung. Tadi kau menontonnya kan?” tanya Liam.
            Aku berusaha mencerna dan mengingat kejadian per kejadian di panggung. Aku terkejut ketika aku mengingat tentang seseorang yang disukai Zayn. “Jadi, itu adalah.. aku?” tanyaku masih tak percaya.
         Zayn memintaku untuk berbincang-bincang dengan mereka dan ia akan segera berganti pakaian untuk mengajakku makan malam. Itu yang dikatakannya padaku sebelum dia pergi meninggalkan ruangan itu.
                                                                        ***
            Zayn mengajakku keluar dari ruangan itu dan memberi jaketnya untuk menutupi wajahku. Dia bilang, “Sebelum kau terlihat cantik, kau tidak boleh meperlihatkan batang hidungmu ke media.” Aku sedikit kesal ucapannya itu. Tapi aku yakin itu hanya bercanda.
            Aku masuk ke mobil asistennya dan kami berdua duduk di kursi penumpang. Mobil melaju ke sebuah toko yang sangat terkenal, toko yang masih sangat bagus dibandingkan dengan butik milik bibi-ku. Kami masuk dan sudah ada pelayan toko yang mengerti kedatangan kami. Lalu pelayan toko tersebut mengarahkanku untuk masuk ke ruangan. Lalu aku diberi sebuah gaun warna peach yang indah dengan panjang semata kaki. Setelah pelayan toko itu selesai merapikan pakaianku, ia mengajakku keluar dan bertemu dengan Zayn.
            Zayn terpukau melihat gaun yang kukenakan. Ia tersenyum dan meraih tanganku, kemudian melingkarkan tanganku ke lengannya. “Zayn, kita mau kemana?” tanyaku.
            “Bersiaplah, karena aku akan menunjukkanmu kepada dunia. Dan aku mengatakan sesuatu yang penting untukmu nanti,” Zayn kembali membuatku penasaran.
                                                                        ***
            Kami turun dari mobil hitam milik asistan Zayn dan masuk ke sebuah restoran mewah di kota London ini. Restoran dengan interior klasik itu membuatku terpana. Pengunjung yang ada disana hanya beberapa orang saja. Makanan di restoran ini pasti sangat mahal. Lagi-lagi, kami disambut oleh seorang pelayan. Dan ia mengantarkan kami ke salah satu meja yang berada dekat dengan pemain musik klasik. Pelayan itu pergi dan kembali lagi dengan membawakan makanan.
            Zayn mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak warna merah yang didalamnya berisi cincin. Ia menujukkannya padaku sambil berkata, “Terimalah aku”.
            Aku pun tersentak kaget. Ucapan Zayn yang sangat singkat itu membuat jantungku berdebar dan aku merasa sangat gugup. Aku masih tidak percaya Zayn menyatakan perasaannya padaku dan kini memintaku untuk menerimanya.
       “Aku sungguh-sungguh menyukaimu. Kau satu-satunya orang yang mampu membuatku nyaman,” Zayn menatap kedua mataku dengan hangat.
            Aku pun mengangguk pelan.
Zayn menyematkan cincin itu ke jari manisku dan berkata, “Terima kasih, sayang. Apakah tidak apa-apa jika hidupmu nanti akan sedikit terganggu karena pekerjaanku ini?”
            “Tentu saja tidak. Aku mampu menerima segala yang ada pada dirimu. Dan aku akan selalu mendukungmu,” jawabku dengan perasaan bahagia.
            Zayn bangkit dari kursinya dan mendekatiku, kemudian ia mencium keningku dengan lembut.
                                                                        ***

Judul ff ini sungguh nggak nyambung sama isinya. Habis gue bingung mau kasih judul apa. Dan itu judulnya juga semacam sebuah harapan, bahwa Zayn Malik bakal kembali ke kamu (directioners & the boys).
Tulisan ini sebenarnya terinspirasi oleh novel-nya Kak Ilana Tan yang berjudul “Summer In Seoul”. Yaitu tentang seorang gadis biasa berprofesi sebagai desainer dan bertemu dengan penyanyi bernama Jung Tae Woo. Tapi bedanya, kalau di novel Kak Ilana Tan tokoh ceweknya nggak ngefans sama si penyanyi.

Novel itu sangat aku rekomendekasikan banget deh. Jangan lupa, belinya sekalian satu paket, isinya novel tetralogi empat musim karya Ilana Tan. Eh, beli dua paket ya.. buat aku sekalian. Mbak-mas yang baik, cantik, ganteng, kalau bisa beliin aku juga yaa. Dulu pernah baca tetralogi-nya tapi minjem temen. Sekarang pengen punya sendiri, apalagi cover novelnya udah ganti tambah bagus. Yang baik hati, boleh dong kirimin paket novel-nya ke rumahku. Hehe... Tak doain nanti disayang Tuhan dan masuk surga. Amin J

0 komentar:

Posting Komentar