Sabtu, 15 Maret 2014

Penjual Buah Nangka

            Hari minggu itu Ari dan Toni ke rumah Rani. Sesampainya di rumah Rani, Toni melihat buah nangka yang sudah matang dikebun Rani.
            “Ran, buahnya sudah matang tuh. Kelihatannya segar-segar banget,” ucap Toni memandangi buah nangka yang ada diatas pohon.
            “Memang sih, buahnya sudah banyak yang matang. Tapi ayahku belum ada waktu untuk memetiknya. Jadi, buah itu dibiarkan menggantung di pohon,” balas Rani menanggapi ucapan Toni.
            “Kalau panas-panas makan buah nangka bakal nikmat banget nih,” ucap Ari.
            “Inikan masih pagi, Ar,” ucap Rani.
            “Iya sih. Maksudku nanti siang. Kalau siang-siang kan panas banget, makan yang seger-seger bakal nikat dan ngilangin dahaga,” ucap Ari menjelaskan.
            “Ah, bener juga. Aku juga membayangkan betapa segernya buah nangka itu bila dimakan siang hari,” ucap Toni sambil membasahi bibirnya membayangkan kesegaran buah nangka itu.
            “Ah, aku punya ide,” teriak Rani tiba-tiba.
            “Ide apa, Ran? Jangan berteriak tiba-tiba begitu dong. Bikin kaget aja,”ucap Ari.
            “Maaf-maaf. Aku kan nggak berniat ngagetin kamu”
            “Terserahlah. Tadi kamu bilang punya ide. Ide apa sih?” tanya Ari.
            “Gini lho... Dirumahku kan banyak buah nangka yang seger-seger, gimana kalau kita jual ke pasar aja. Siapa tau aja buah nangka itu banyak yang laku. Nanti sebagian uangnya bisa buat jajan dan sebagian lagi bisa kita tabung. Gimana?” tanya Rani setelah menjelaskan idenya dengan panjang lebar.
            “Wah, idemu bagus juga. Apalagi, uangnya busa buat jajan. Asyikkkk” seru Toni.
            “Aku setuju dengan idemu, Ran” ucap Ari.
            Toni mengiyakan.
            “Ayo kita mulai memetik,’ teriak Rani.
            Rani, Ari, dan Toni mulai memetik buah nangka. Satu persatu buah nangka dimasukkan ke dalam keranjang. Setelah satu jam berlalu, keranjang itu sudah terisi penuh dengan buah nangka. Ada satu keranjang yang terisi penuh, dan yang satunya terisi hanya sebagian.
            “Fiuuhh... Capeknyaaa,” ucap Ari mengusap keringat di dahinya.
            “Ini jam berapa sih? Apa jam segini pasar masih buka?” tanya Toni.
            “Pastinya masih buka dong. Ini kan masih sekitar jam sepuluh-an,” jawab Roni.
            “Kita istirahat dulu aja yaa... Aku capek sekali. Aku minta buahnya satu ya, Ran” ucap Ari. Ia mengambil buah nangka yang ada di keranjang.
            “Iya. Ambil aja,”ucap Rani.
            Ari mengangguk.
            “Bagi dong. Aku kan juga ingin makan,” pinta Toni meraih buah nagka yang ada di tanagan Ari.
            Mereka bertiga beristirahat sambil duduk-duduk di bawah pohon. Mereka memakan beberapa buah nangka untuk menghilangkan rasa lelah setelah memetik buah.
            “Sebaiknya kita ke pasar sekarang. Hari semakin siang, nanti buah kita tidak laku lho,” ucap Rani memberi saran.
            “Ayo, kita bawa keranjang ini,” ucap Toni sambil mengangkat keranjang bersisi buah nangka itu.
            Rani,Ari, dan Toni bersama-sama membawa keranjang itu ke pasar. Letak pasar tidak jauh dari rumah Rani.
            Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di pasar. Mereka menaruh keranjang buah itu ke tanah. Sesekali mereka menyerukan orang-orang yang lewat untuk membeli buah nangka itu.
            Sudah satu jam berlalu, tapi buah nangka yang dijual belum habis. Dan hanya beberapa orang saja yang membeli buah nangka itu.
            “Kenapa langitnya jadi gelap ya. Sudah hampir hujan nih,” ucap Rani setelah mengamati langit yang bertambah gelap.
            “Kita pulang sekarang aja yuk,” ucap Ari.
            “Tapi jualan kita belum habis. Lagian kita baru dapat uang sedikit,” ucap Toni.
            “Jangan bicara uang terus. Daripada kita kehujanan lebih baik kitapulang sekarang,” ucap Rani.
            “Baiklah. Ayo kita bereskan buah-buah ini dulu,” ucap Toni akhirnya.
            Belum selesai membereskan dagangan mereka, hujan justru tiba-tiba turun dengan sangat deras.
            “Aduh, kenapa hujannya malah turun. Kita lari aja yuk,” ajak Ari.
            “Eh... Jangan!!! Kita tunggu hujannya samapi reda dulu. Nanti kita bisa sakit kalau hujan-hujanan,” ucap Rani.
            “Tapi langitnya masih gelap banger, Ran. Kayaknya hujannya bakal lama,” ucap Toni.
            “Udah, nggak papa. Kita sabar aja, pasti reda kok,” ucap Rani lagi.
            Mereka bertiga duduk di bangku panjang yang ada di depan sebuah toko sambil memandangi hujan yang tak juga reda. Wajah mereka tampak kecewa dan sedih. Mereka juga baru ingat kalau mereka belum minta izin dengan orang tua mereka.
            “Teman-teman, kita kan belum minta izin dengan orang tua kita. Dan kita juga belum bilang ke mereka kalau kita sedang jualan di pasar,” ucap Rani.
            “Iya, benar. Orang tua kita pasti sangat khawatir. Tadi pagi aku bilang pada orang tuaku bahwa aku mau main ke rumahmu, Ran. Tapi mereka pasti bingung, karena aku tidak ada di rumahmu,” ucap Toni.
            “Aku juga begiitu. Aku bilangnya Cuma main ke rumahmu, Ran,” ucap Ari.
            “Duuhhh... bagaimana dong? Orang tuaku juga pasti cemas,” keluh Rani kebingungan.
            Mereka bertiga diam dan tak bersuara lagi.
            Tiga puluh menit kemudian, hujan sudah mulai reda. Hanya titik-titik air kecil saja yang mash turun. Mereka memutuskan untuk menerobos gerimis. Mereka berlari menuju Rani. Walaupun hujan sudah reda, tetapi sesampainya di rumah Rani mereka bertiga terlihat basah kuyup.
            Ayah Rani keluar ketika melihat Rani dan teman-temannya berada di teras rumah.
            “Lho, kalian darimana? Habis hujan-hujanan yaa?” tanya Ayah Rani.
            “Tidak kok,yah. Kami itu baru pulang dari pasar. Tadi pagi kai melihat buah nangka di kebun ayah sudah matang. Jadi kami memetiknya dan menjualnya ke pasar. Kami pikir, musim panas seperti ini buahnya bakal laku. Tapi tiba-tiba saja hujan turun, dan kami menunggu hujan itu hingga reda, yah,” jelas Rani.
            “Ooo.. begitu. Tapi tadi orang tua Ari dan Toni kesini. Mereka menanyakan keadaan kalian. Mereka sangat khawatir karena kalian tidak pulang-pulang. Ayahpun juga begitu, Ran. Kamu juga tidak minta izin dulu sama ayah atau ibu sih,” ucap Ayah pada Rani.
            “Maaf, yah. Tadi itu keasyikan mikirin uang, aku jadi lupa buat minta izin. Maafkan aku dan teman-temanku ya, yah.”
            “Iya. Tapi lain kali kalau mau main kalian harus minta izin dulu ya,” nasihat ayah.
            Ari dan Toni berjalan keluar dari rumah Rani. Mereka berjalan menuju rumah masing-masing dengan membawa payung yang dipinjami Rani. Mereka meminta maaf kepada orang tua mereka karena tidak minta izin saat mereka akan ke pasar. Dan mereka berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
***
Selesai....!!!!

Itu adalah cerpen pertamaku yang bertema anak-anak. Itupun gara-gara pelajaran bahasa Indonesia waktu kelas 9 smp. Kalo dulu nggak disuruh bikin aku juga nggak bakalan bikin. Lumayan susah juga bikin cerpen anak-anak. Soalnya aku kan udah remaja, nggak bisa dibilang anak-anak, tapi dewasa juga nggak. Intinya, lebih mudah menulis cerpen remaja daripada cerpen anak-anak.

0 komentar:

Posting Komentar