Hari minggu itu Ari dan Toni ke
rumah Rani. Sesampainya di rumah Rani, Toni melihat buah nangka yang sudah
matang dikebun Rani.
“Ran, buahnya sudah matang tuh.
Kelihatannya segar-segar banget,” ucap Toni memandangi buah nangka yang ada
diatas pohon.
“Memang sih, buahnya sudah banyak
yang matang. Tapi ayahku belum ada waktu untuk memetiknya. Jadi, buah itu
dibiarkan menggantung di pohon,” balas Rani menanggapi ucapan Toni.
“Kalau panas-panas makan buah nangka
bakal nikmat banget nih,” ucap Ari.
“Inikan masih pagi, Ar,” ucap Rani.
“Iya sih. Maksudku nanti siang.
Kalau siang-siang kan panas banget, makan yang seger-seger bakal nikat dan
ngilangin dahaga,” ucap Ari menjelaskan.
“Ah, bener juga. Aku juga
membayangkan betapa segernya buah nangka itu bila dimakan siang hari,” ucap
Toni sambil membasahi bibirnya membayangkan kesegaran buah nangka itu.
“Ah, aku punya ide,” teriak Rani
tiba-tiba.
“Ide apa, Ran? Jangan berteriak
tiba-tiba begitu dong. Bikin kaget aja,”ucap Ari.
“Maaf-maaf. Aku kan nggak berniat
ngagetin kamu”
“Terserahlah. Tadi kamu bilang punya
ide. Ide apa sih?” tanya Ari.
“Gini lho... Dirumahku kan banyak
buah nangka yang seger-seger, gimana kalau kita jual ke pasar aja. Siapa tau
aja buah nangka itu banyak yang laku. Nanti sebagian uangnya bisa buat jajan
dan sebagian lagi bisa kita tabung. Gimana?” tanya Rani setelah menjelaskan
idenya dengan panjang lebar.
“Wah, idemu bagus juga. Apalagi,
uangnya busa buat jajan. Asyikkkk” seru Toni.
“Aku setuju dengan idemu, Ran” ucap
Ari.
Toni mengiyakan.
“Ayo kita mulai memetik,’ teriak
Rani.
Rani, Ari, dan Toni mulai memetik
buah nangka. Satu persatu buah nangka dimasukkan ke dalam keranjang. Setelah satu
jam berlalu, keranjang itu sudah terisi penuh dengan buah nangka. Ada satu
keranjang yang terisi penuh, dan yang satunya terisi hanya sebagian.
“Fiuuhh... Capeknyaaa,” ucap Ari
mengusap keringat di dahinya.
“Ini jam berapa sih? Apa jam segini
pasar masih buka?” tanya Toni.
“Pastinya masih buka dong. Ini kan
masih sekitar jam sepuluh-an,” jawab Roni.
“Kita istirahat dulu aja yaa... Aku
capek sekali. Aku minta buahnya satu ya, Ran” ucap Ari. Ia mengambil buah
nangka yang ada di keranjang.
“Iya. Ambil aja,”ucap Rani.
Ari mengangguk.
“Bagi dong. Aku kan juga ingin
makan,” pinta Toni meraih buah nagka yang ada di tanagan Ari.
Mereka bertiga beristirahat sambil
duduk-duduk di bawah pohon. Mereka memakan beberapa buah nangka untuk
menghilangkan rasa lelah setelah memetik buah.
“Sebaiknya kita ke pasar sekarang.
Hari semakin siang, nanti buah kita tidak laku lho,” ucap Rani memberi saran.
“Ayo, kita bawa keranjang ini,” ucap
Toni sambil mengangkat keranjang bersisi buah nangka itu.
Rani,Ari, dan Toni bersama-sama
membawa keranjang itu ke pasar. Letak pasar tidak jauh dari rumah Rani.
Tak berapa lama kemudian, mereka
sampai di pasar. Mereka menaruh keranjang buah itu ke tanah. Sesekali mereka
menyerukan orang-orang yang lewat untuk membeli buah nangka itu.
Sudah satu jam berlalu, tapi buah
nangka yang dijual belum habis. Dan hanya beberapa orang saja yang membeli buah
nangka itu.
“Kenapa langitnya jadi gelap ya.
Sudah hampir hujan nih,” ucap Rani setelah mengamati langit yang bertambah
gelap.
“Kita pulang sekarang aja yuk,” ucap
Ari.
“Tapi jualan kita belum habis.
Lagian kita baru dapat uang sedikit,” ucap Toni.
“Jangan bicara uang terus. Daripada
kita kehujanan lebih baik kitapulang sekarang,” ucap Rani.
“Baiklah. Ayo kita bereskan
buah-buah ini dulu,” ucap Toni akhirnya.
Belum selesai membereskan dagangan
mereka, hujan justru tiba-tiba turun dengan sangat deras.
“Aduh, kenapa hujannya malah turun.
Kita lari aja yuk,” ajak Ari.
“Eh... Jangan!!! Kita tunggu
hujannya samapi reda dulu. Nanti kita bisa sakit kalau hujan-hujanan,” ucap
Rani.
“Tapi langitnya masih gelap banger,
Ran. Kayaknya hujannya bakal lama,” ucap Toni.
“Udah, nggak papa. Kita sabar aja,
pasti reda kok,” ucap Rani lagi.
Mereka bertiga duduk di bangku
panjang yang ada di depan sebuah toko sambil memandangi hujan yang tak juga
reda. Wajah mereka tampak kecewa dan sedih. Mereka juga baru ingat kalau mereka
belum minta izin dengan orang tua mereka.
“Teman-teman, kita kan belum minta
izin dengan orang tua kita. Dan kita juga belum bilang ke mereka kalau kita
sedang jualan di pasar,” ucap Rani.
“Iya, benar. Orang tua kita pasti
sangat khawatir. Tadi pagi aku bilang pada orang tuaku bahwa aku mau main ke
rumahmu, Ran. Tapi mereka pasti bingung, karena aku tidak ada di rumahmu,” ucap
Toni.
“Aku juga begiitu. Aku bilangnya
Cuma main ke rumahmu, Ran,” ucap Ari.
“Duuhhh... bagaimana dong? Orang
tuaku juga pasti cemas,” keluh Rani kebingungan.
Mereka bertiga diam dan tak bersuara
lagi.
Tiga puluh menit kemudian, hujan
sudah mulai reda. Hanya titik-titik air kecil saja yang mash turun. Mereka
memutuskan untuk menerobos gerimis. Mereka berlari menuju Rani. Walaupun hujan
sudah reda, tetapi sesampainya di rumah Rani mereka bertiga terlihat basah
kuyup.
Ayah Rani keluar ketika melihat Rani
dan teman-temannya berada di teras rumah.
“Lho, kalian darimana? Habis hujan-hujanan
yaa?” tanya Ayah Rani.
“Tidak kok,yah. Kami itu baru pulang
dari pasar. Tadi pagi kai melihat buah nangka di kebun ayah sudah matang. Jadi
kami memetiknya dan menjualnya ke pasar. Kami pikir, musim panas seperti ini
buahnya bakal laku. Tapi tiba-tiba saja hujan turun, dan kami menunggu hujan
itu hingga reda, yah,” jelas Rani.
“Ooo.. begitu. Tapi tadi orang tua
Ari dan Toni kesini. Mereka menanyakan keadaan kalian. Mereka sangat khawatir
karena kalian tidak pulang-pulang. Ayahpun juga begitu, Ran. Kamu juga tidak
minta izin dulu sama ayah atau ibu sih,” ucap Ayah pada Rani.
“Maaf, yah. Tadi itu keasyikan
mikirin uang, aku jadi lupa buat minta izin. Maafkan aku dan teman-temanku ya,
yah.”
“Iya. Tapi lain kali kalau mau main
kalian harus minta izin dulu ya,” nasihat ayah.
Ari dan Toni berjalan keluar dari
rumah Rani. Mereka berjalan menuju rumah masing-masing dengan membawa payung
yang dipinjami Rani. Mereka meminta maaf kepada orang tua mereka karena tidak
minta izin saat mereka akan ke pasar. Dan mereka berjanji tidak akan
mengulanginya lagi.
***
Selesai....!!!!
Itu adalah cerpen
pertamaku yang bertema anak-anak. Itupun gara-gara pelajaran bahasa Indonesia
waktu kelas 9 smp. Kalo dulu nggak disuruh bikin aku juga nggak bakalan bikin.
Lumayan susah juga bikin cerpen anak-anak. Soalnya aku kan udah remaja, nggak
bisa dibilang anak-anak, tapi dewasa juga nggak. Intinya, lebih mudah menulis
cerpen remaja daripada cerpen anak-anak.

0 komentar:
Posting Komentar