Kamis, 25 Desember 2014

Masih Sama Seperti Dulu


Ya tuhan... Ternyata perasaanku dengannya masih sama seperti dulu. Baru saja aku melihat foto-foto yang di uploadnya melalui media sosial, dan sedetik kemudian dadaku terasa sesak. Jantungku masih berdetak keras bila melihatnya. Sebenarnya aku hanya ingin tahu statusnya disana, tapi aku melihat fotonya. Dia terlihat lebih tampan.
Aku hampir menitikkan air mataku. Jujur, aku mengaku salah. Dulu aku mengabaikannya, menyia-nyiakannya. Aku terlalu egois dan jual mahal. Padahal aku menyukainya. Tapi waktu itu aku hanya ingin menyingkirkan perasaan aneh itu. Perasaan yang tak seharusnya ku rasakan. Karena dia bukan tempatku berlabuh. Aku ingin mengabaikan perasaan aneh itu. Tapi hingga sekarang, kenapa dia tidak bisa keluar dari otakku?
Aku akan jujur. Aku merindukannya. Benar-benar merindukannya. Perdebatan kecil yang sering kita lakukan, gurauan dan canda tawa, walau itu hanya lewat message. Hh, aku menyedihkan. Dia hanya memberikanku kata-kata manis lewat message dan tak pernah sekalipun tatapan langsung, tapi aku jatuh dalam pesonanya.
Hampir dua tahun perasaan itu tumbuh dan berkembang. Aku bahkan tidak mampu menyingkirkannya. Aku benci pada diriku sendiri. Kenapa dulu aku menyia-nyiakannya begitu? Oh tuhan, satu kesempatan lagi untukku. Beri aku kesempatan itu. Aku akan menghapus kesalahanku dan memperbaikinya. Entahlah, aku mengatakan itu dengan sungguh-sungguh atau tidak. Karena terkadang aku sendiri tidak tau apa yang harus ku lakukan jika suatu saat nanti dia kembali kepadaku.
Tapi... Itu mustahil. Aku melihatnya bahagia disana. Senyumnya tampak lepas. Aku tidak mungkin mengacaukan kehidupannya setelah aku membuangnya dengan percuma.
Baru kali ini, aku menyukai seseorang sampai sejauh ini. Sampai aku tidak bisa melupakannya. Sampai aku memendamnya selama dua tahun. Andai dia tau perasaanku yang sebenarnya, aku harus bagaimana? Saat aku menulis ini, jantungku tetap tak mau berdetak normal. Air mataku masih terus menetes tanpa mau berhenti. Nafasku.. Aku berkali-kali mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Berharap itu bisa membuat jantungku berdetak normal.
Sudah terlalu sering, aku melakukan ini. Menangis karena merindukannya. Dan memikirkan kembali kesalahanku. Andai tempatmu itu tak sejauh bumi dengan langit, andai aku dapat menjangkaumu dengan mudah. Aku terlalu berharap.
Aku berjanji pada diriku untuk melupakannya dan tidak mencari tau semua informasi tentangnya. Tapi nyatanya hatiku menolak. Hati tidak bisa berbohong kan? Seberapa keras pun aku mencoba melupakannya, aku tidak akan bisa.
#Untuk seseorang yang special di hatiku #Semoga kau membacanya

0 komentar:

Posting Komentar