Jumat, 21 Maret 2014

,

ff Mario Maurer (Chapter 2)

Title : First sight
Author : arini sabila
Cast : mario maurer
Genre : romance
Disclaim : ini ff aku yang kedua. Nggak terlalu bagus sih. Aku buat ff ini gara-gara baca ff di internet. Banyak banget ff yang aku cari dari beberapa artis yang aku sukai. Dan salah satunya mario maurer. Enjoy reading

***
Chapter 2
"Bu, aku mau pergi dulu ya. Mau jalan-jalan"pamitku.
"Kemana? Sama siapa?"
"Aku mau diajak temanku jalan-jalan. Tapi aku nggak dikasih tau mau kemana"
"Sama shinye itu bukan?"
"Iya,bu"
"Yasudah. Sana, hati-hati ya"
***
"Woww.. Bagus sekali" takjubku ketika melihat pemandangan yang begitu indah. Aku berdiri di tepi sungai han. Tau sungai Han kan? Orang korea menyebutnya 'Han Gang' atau 'Han River'. Disini aku dapat melihat berjejer restoran di sekitar sungai dan beberapa restoran yang mengapung di sungai. Disekitarku ada sebagian orang yang menyewa sepeda dan ada juga yang berjalan kaki bersama dengan pasangannya.
"Dari dulu aku ingin sekali kesini. Tapi sesampainya di Korea, kenapa aku tidak pernah memikirkan untuk jalan-jalan ke sungai Han,yaa.." Ucapku dengan nada masih gembira.
Shinhye hanya tersenyum. Kami berdua memandangi sungai han tanpa henti. Entah telah berapa lama kami berdiri di tepi sungai tersebut.
"Ah, ternyata memandang hal yang begitu indah saja bisa membuat kita dahaga yaa. Aku beli minuman dulu ya" ucap shin hye sambil mengusap-usap tenggorokannya yang mulai mengering.
"Oke. Jangan lama-lama yaa" shin hye meninggalkanku ke sebuah kedai kopi.
Waktu berlalu sangat cepat. Matahari sudah hampir menenggelamkan tubuhnya ke dalam bumi. Tidak terasa aku dan shin hye sudah berjalan-jalan di tepian sungai ini, memandangi sungai ini, sampai tiga jam lebih. It's woww.. ~ah,gue lebay~
'Kenapa shin hye lama sekali?' Batinku dalam hati. Aku memutuskan untuk menyusul shinhye. Mungkin kedai kopinya sedang rame, jadi sebaiknya aku menyusul kesana saja.
Walaupun sudah berjam-jam melihat keindahan sungai han, tapi aku belum benar-benar puas. Aku berjalan pun tanpa memerhatikan jalan yang ada di depanku. Aku tetap melihat kearah sungai. Dan tiba-tiba saja.. Bruukk...
Foto-foto hasil jepretan yang beberapa hari lalu aku ambil itupun terjatuh berserakan. Foto-foto itu sedang aku pegang di tanganku. Tapi seseorang menabrakku dan membuat foto itu berhamburan. Tanpa melihat siapa yang telah menabrakku, aku langsung memunguti foto-foto itu. Dan orang itu juga membantuku memungutinya. Ia mengambil sebuah foto dimana ada foto dirinya disitu. Aku mendongak sedikit, dan orang itu adalah pria jurusan seni lukis.
Aku gelagapan. Aku memunguti semua yang jatuh di tanah dan langsung meraih foto yang ada di tangan laki-laki itu. Dia nampak kaget. Tapi perlahan, dia tersenyum kepadaku,"annyeong". Ucapnya memberi salam.
"Annyeong" balasku. "Kau sendirian?" Tanyanya. Apa? Dia tidak menanyakan perihal foto yang dilihatnya barusan? Bukankah itu foto dirinya?
"Ti-tidak. Aku bersama dengan temanku. Aku hendak menyusulnya ke kedai kopi disebelah sana" aku mengacungkan jariku kesebuah kedai kecil di depan resto mewah.
"Oh,baiklah. Ayo jalan bersama"
Kami berdua berjalan menyusuri tepi sungai han. Matahari benar-benar nampak indah. Aku dan pria itu berjalan bersama, berdua. Ah, sungguh bahagia rasanya.
"Kita belum kenalan kan?" Pria itu menghentikkan langkahnya dan menoleh kearahku.
Aku juga menghentikkan langkahku.
"Namaku mario maurer. Aku dari jurusan seni lukis, kau sudah tau kan?"
"Ne. Namaku Sandy Amanda, aku jurusan fotografi semester 3"
"Oh,kau tinggal dimana? Sepertinya kau bukan orang korea asli?" Kami melanjutkan perjalanan kami.
"Aku tinggal di apartemen (bla-bla). Aku orang indonesia dan sekarang aku akan menetap di korea. Kau sendiri juga bukan orang korea kan?"
"Ya,aku memang bukan orang korea. Aku orang thailand. Dan aku melanjutkan kuliahku di Korea"
Aku manggut-manggut mengerti. Jadi tebakanku memang benar. Dia bukan orang korea.
"Kenapa kau pindah ke korea?"
"Kakakku kerja disini dan orang tuaku juga ingin pindah katanya. Aku hanya mengikuti mereka saja"
Kali ini dia yang manggut-manggut, mengerti perkataanku.
***
Semenjak perkenalan itu, aku dan mario jadi lebih sering bertemu. Apalagi kampus kita sama. Kita sering menghabiskan waktu berjalan-jalan bersama, makan bersama, dan mengikuti pameran bersama. Terkadang shin hye juga ikut jalan-jalan bersama kami. Tapi karena dia punya cowok baru,namanya Yong Hwa, jadi dia nggak terlalu sering menemaniku berjalan-jalan.
Aku dan mario mempunyai banyak kesamaan. Pertama,kita sama-sama bukan orang korea asli. Kedua, aku dan mario suka dengan sesuatu yang berbau seni. Aku juga menyukai seni lukis,apalagi lukisan mario. Dan dia juga suka dengan seni fotografi. Ketiga, aku dan dia sama-sama suka mencari pemandangan yang indah,kemudian mengabadikannya dalam seni kita masing-masing. Benar-benar menakjubkan.
Aku tidak pernah menyangka akan sedekat ini dengan mario,pria yang sejak hari pertamaku di kampus menjadi pusat perhatianku. Semenjak pertemuan pertamaku, aku tidak pernah berhenti memotretnya. Dia itu fotogenik banget. Mau model apapun tetep bagus jika di foto. Jika aku mau menghitung foto-fotonya dalam memori kameraku, uhh.. Sudah ratusan lebih mungkin.
Saat itu, kami sedang berbincang-bincang di kantin mengenai pameran foto yang akan diadakan lusa. Entah telah sejauh mana kami berbincang, rasanya waktu berlalu begitu cepat. Ternyata sudah hampir satu jam. Untungnya kami tidak ada kelas. Aku mengeluarkan foto-fotoku sewaktu di taman yang pernah aku pamerkan di pameran seni. Mario mengamatinya dengan sangat jeli. Ia menyusun berjejer lima foto itu, bukan hanya foto ditaman,tapi juga foto sewaktu hari pertama di kampus. Sangat jeli sekali.
"Aku?"tanyanya bingung Aku tidak mengerti. Aku menaikkan alisku dan bertanya-tanya.
"Kenapa? Ada apa?"Tanyaku "Coba amati. Semua fokusnya mengarah kepadaku," ucapnya sambil mencoba menunjukkan fokus dalam foto itu.
Aku mengamatinya dengan jeli, seperti yang telah ia lakukan sebelumnya. 'Hah? Kok bisa?'tanyaku dalam batin.
"Sungguh, aku tidak bermaksud mengambil fotomu. Itu hanya tidak sengaja saja" aku menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah. I swear!!!
"Kok bisa kebetulan ya" ia menyelidik ke arahku dengan mata menggoda.
"Mana aku tahu" ucapku dengan bibir mencibir.
"Ah, kau bohong ya. Kau mengambil fotoku diam-diam. Ngaku saja. Ayo ngaku." Dia semakin menggodaiku.
Aku masih mencibir dan mencoba meyakinkannya bahwa aku benar-benar tidak sengaja mengambil foto itu. Aku sendiri bingung, kenapa sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di korea, aku bahkan sudah mengabadikan pria di depanku ini dalam kameraku.
***
Sepertinya, mario tau kalau perasaanku padanya bukan hanya sekedar teman. Ia menyadari itu ketika aku telah tertangkap basah sedang mengambil fotonya. Tetapi ia tidak bilang apapun tentang hal itu. Dan sejak saat itu, dia menghilang seperti di telan bumi. Aku tidak pernah melihat batang hidungnya lagi. Teman-temannya pun juga tidak tau. Dan rumahnya di Seoul juga sepi. 'Apa mungkin dia kembali ke Thailand?' Tanyaku pada diriku sendiri.
Aku mencarinya ke seluruh sudut kota Seoul, tapi aku tak berhasil menemukannya. Aku menelfon nomernya,tapi handphone-nya tidak aktif. Aku benar-benar sudah putus asa mencarinya. Aku merasakan ada sesuatu bagian dari diriku yang telah hilang. Aku tidak tau lagi harus mencari dia dimana. Aku sadar, bahwa aku sangat membutuhkannya dan aku memang mencintainya.
***
 Sorry ya kalo gaje...
aku post lebih cepat dari yang kalian duga kan?
ayo, silahkan tinggalkan komentar. Saya sangat menghargai komentar Anda. Jadi jangan sungkan untuk memberikan komentar jika cerita yang saya buat ini kurang bagus atau memiliki kesamaan cerita.
Tunggu yang chapter 3 yaaa... ;) Gumawooo......

0 komentar:

Posting Komentar