Title : First sight
Author : arini sabila
Cast : mario maurer
Genre : romance
Disclaim : ini ff aku
yang kedua. Nggak terlalu bagus sih. Aku buat ff ini gara-gara baca ff di
internet. Banyak banget ff yang aku cari dari beberapa artis yang aku sukai. Dan
salah satunya mario maurer. Enjoy reading
***
Chapter 3
Satu tahun kemudian....
Aku melihat seseorang yang aku kenal, datang menghampiriku yang sedang duduk sendirian di bangku kampus. Aku tidak tau harus bagaimana. Apa aku harus senang melihat dia kini berdiri di hadapanku. Atau aku harus marah karena dia tidak memberiku kabar sama sekali. Tapi siapa aku? Kenapa aku harus mendapat kabar darinya? Dia saja belum membalas sepatah katapun tentang perasaanku.
Ia tersenyum kepadaku. Masih senyum yang dulu. Kemudian dia memberi salam kepadaku. Hatiku rasanya tenang dapat melihatnya kembali. Aku membalas salamnya.
"Kau sendirian?" Lagi-lagi pertanyaan itu. Ia berbicara seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi. Padahal,dia sangat berarti untukku. Dia tidak tau, bagaimana aku menjalani satu tahun hidupku tanpa dirinya. Aku seperti tidak dapat bernafas dengan bebas. Aku seperti dikurung dalam penjara yang sangat pengap,gelap, dan sunyi. Aku benar-benar kehilangannya.
Aku mengangguk,menjawab pertanyaannya. Rasanya seperti dicabik-cabik. Aku tidak
mampu menumpahkan seluruh kerinduanku kepadanya, aku tidak mampu menyatakan
perasaanku di hadapannya langsung. Sesuatu membasahi pipiku. Airmataku tak terbendung lagi. Aku menangis sepuas-puasnya. Kemudian dia memelukku. Aku menangis di bahunya. Aku merasakan detak jantungnya. Jantungnya berdetak sangat cepat. Ia membiarkanku menangis selama yang aku mau. Ingin rasanya menghentikkan dunia ini, memperlambat waktu yang sedang berjalan ini agar aku dapat lebih lama memeluknya.
Aku berhenti memeluknya. Aku menarik diriku sendiri dari bahu pria itu. Dia mengusap air
mataku dengan lembut. Kemudian kami berdua saling terdiam. Tidak ada yang berbicara sama sekali. Dan saat-saat seperti ini rasanya detik jam berjalan sangat lambat. Bagaimana caraku mencairkan suasana ini?
"Kau mau pergi jalan-jalan denganku?" Dia menoleh kearahku.
Aku hanya mengangguk. Dia menggenggam tanganku dan berjalan ke suatu tempat.
Di perjalanan,kami tidak berbicara sepatah katapun. Aku dan mario sibuk dengan pikiran kami
masing-masing. Dia akan mengajakku kemana? Apakah dia ingin menjelaskan semuanya kepadaku? Apakah ia akan jujur mengenai perasaannya kepadaku? Lalu aku harus bagaimana? Jika kejujuran yang akan ia ungkapkan nanti menyakitkan, apakah aku bisa menjalani hidupku selanjutnya? Beribu-ribu pertanyaan muncul di otakku. Tapi tak satupun dapat terjawab sebelum aku sampai di tempat itu.
Mario juga sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia bingung harus menjelaskannya darimana. Dia
bingung, apakah nantinya aku akan mengerti dan memahami penjelasannya.
***
Setelah lima belas menit berjalan kaki, kami
sampai di suatu tempat, Han river. Semua masalah rasanya hilang begitu saja
ketika melihat sungai nan indah dan sejuk di pandang ini. Aku memegangi pagar
pembatas di tepi sungai. Mataku terpejam. Aku menghirup napas dalam-dalam. Dan
pikiranku mulai jernih. Hatiku juga semakin mantap dengan pria di sampingku
ini.
"Mario"
"Sandy" kami menoleh dan berbicara secara bersamaan.
"Silahkan kau dulu" ucapku pada Mario.
"Tidak, kau dulu saja" jawab Mario.
Aku menarik napas kembali. "Aku mau mengatakan sesuatu kepadamu" aku mengalihkan
pandanganku ke arah sungai. "Sebenarnya aku suka sama kamu. Kamu tau tidak?" Aku menoleh ke arahnya sebentar, lalu kembali ke pemandangan sungai di depanku. "Sejak hari pertama aku melihat kamu menaiki tangga di kampus aku sudah mulai mengagumimu. Hingga hari-hari berikutnya aku selalu memandangmu dari kejauhan dan mengambil foto-fotomu. Lalu kita bertemu dalam pameran seni, kemudian kita bertemu di sungai han dan berkenalan, setelah itu kita sering bertemu dan berjalan bersama. Rasa kagumku itu berubah menjadi
perasaan sayang. Sampai akhirnya kamu menghilang begitu saja. Saat itu, aku fikir kamu merasa tidak nyaman padaku karena aku ketahuan mengambil fotomu. Atau mungkin aku fikir kamu akan pulang ke thailand. Tapi betapa beratnya hidupku saat kamu tidak ada disisiku. Aku mencoba menghilangkan perasaan itu dan membiasakan diriku untuk melupakanmu, tapi aku justru semakin menghawatirkanmu" aku berhenti sejenak dan memerhatikan ekspresi apa yang ada di wajah pria ini. Sepertinya ia sendiri merasa sedih dan menyesal telah pergi begitu saja tanpa memberitahuku.
"Aku sadar. Aku memang membutuhkanmu" aku mengakhiri pengakuanku.
Dari raut mukanya, aku tau, benar-benar tau, dia sangat menyesal dan putus asa. Tapi aku tidak mungkin menghiburnya kalau diriku saja masih dalam keadaan seperti ini.
Sama-sama sedih dan menyesal. Menyesal karena aku tidak mau mengakui perasaanku
sejak awal.
"Sandy..."
Dia memanggilku dengan sangat lembut. "Maafkan aku telah meninggalkanmu.
Aku benar-benar pengecut. Aku tidak pernah memberimu kabar sama sekali. Kau
ingin tau apa yang telah terjadi satu tahun yang lalu? Kau ingin tau, kenapa
aku meninggalkanmu?" Dia membalikkan badannya ke arahku.
Aduh, perasaan apa
ini? Jelas-jelas, ini perasaan jatuh cinta. Kenapa aku masih menanyakannya. Dia
memandangku dengan sangat dalam. Mata kami saling menatap satu sama lain.
Aku mengangguk. Saat
ini, hanya itu yang dapat aku lakukan. Lagipula, aku memang harus mendengar
penjelasan dari mulutnya terlebih dahulu.
"Aku dijodohkan
oleh orang tuaku dengan gadis thailand. Orang tuaku tidak suka kalau aku
menikah dengan gadis korea. Jadi mereka memutuskan untuk mengadakan acara
pertunanganku dengan gadis thailand itu secepat mungkin. Mereka tidak ingin
menundanya. Makanya aku tidak ada waktu untuk memberi taumu. Tapi aku tidak
mencintai gadis itu sama sekali. Aku meyakinkan orang tuaku bahwa aku tidak
akan menikah dengan orang korea. Aku mencoba membujuk mereka untuk membatalkan
pertunangan itu. Dan akhirnya pihak wanita'lah yang membatalkannya. Karena aku pernah bilang kepadanya, bahwa aku telah mencintai seseorang dan tidak mungkin
menyakiti perasaan orang yang aku cintai. Dan gadis thailand itupun mengerti
perasaanku. Ia sendiri yang meminta pertunangan itu dibatalkan," dia mengambil
nafas sebentar. Kemudian menoleh ke arahku lagi.
"Jadi, kau tidak bertunangan dengan gadis thailand itu?" Tanyaku untuk memastikan
bahwa ia benar-benar tidak bertunangan.
"Tidak"
"Dan kenapa kau tidak segera kembali ke Korea setelah pertunangan itu dibatalkan?"Aku
tidak bisa lagi menampung semua pertanyaan-pertanyaan yang ada dikepalaku. Aku
langsung bertanya begitu saja.
Lagi-lagi dia menghembuskan nafas. "Aku pengecut. Aku takut kalau kamu bakal membenciku
setelah aku meninggalkanmu tanpa memberitahumu terlebih dahulu. Sama seperti
yang kau lakukan, aku mencoba melupakanmu dan memutuskan untuk tetap hidup di
Thailand selamanya. Namun semakin hari aku justru semakin memikirkanmu"
Mario membalikkan badannya ke arahku. Ia memegang tanganku,kemudia ia berkata
"Maukah kau memaafkan kesalahan-kesalahanku di masa lalu?"
Aku tersenyum,"tentu saja"
Ia kembali bertanya,"Maukah kau menaruh percayaanmu kepadaku lagi?"
Aku mengangguk.
"Dan maukah kau menjadi pendamping hidupku sampai akhir hayatmu?" Ia bertanya lagi, masih memegangi tanganku.
Apa ini? Ia sedang melamarku? Menyatakan perasaannya kepadaku? Pasti mimpi. Aku mimpi. Iya kan? Hmm.. Seharusnya aku senang, karena dia juga mencintaiku.
"Kenapa diam? Kau tidak mencintaiku lagi?" Tanyanya sedikit khawatir.
"Ti-tidak" aku gugup. "Mm.. Aku,aku.. Tentu saja aku mau" jawabku akhirnya.
"Kau mau menjadi pendamping hidupku?"
Aku mengangguk lagi.
Dia memelukku.
Kemudian, dia berbisik kepadaku,"Aku sangat mencintaimu".
Seketika itu juga, air mataku turun. Aku bahagia, sangat-sangat-sangat bahagia. Aku semakin
mempererat pelukanku dan mengatakan,"aku juga mencintaimu".
***
(TAMAT)

0 komentar:
Posting Komentar