Aku tersenyum kecil jika mengingat kejadian itu. Bukan lucu tapi dalam hati kecilku, aku merasa senang dapat berbicara denganmu. Walau cuma beberapa patah kata. Hari pertama saat kita didudukkan satu meja, aku melihatmu. Dan kurasa kamu tidak begitu buruk. Aku takut ada di sampingmu. Takut kalau suara jantungku ini terdengar olehmu. Rasanya jantungku seperti ditabuh oleh sebuah bedug yang tak pernah mau berhenti. Aku juga mulai keringat dingin. Entah apa yang aku rasakan saat itu. Tapi aku benar-benar merasakan sesuatu yang beda dalam hatiku.
Hari berikutnya, kau berbicara padaku. Kau memintaku membuatkan sebuah tahi lalat kecil di dagumu dengan sebuah pulpen. Kau memintaku melakukan itu untuk menirukan teman sekelasku. Aku semakin bergetar. Aku malu sekali. Aku menolak membuatkannya. Jika kujawab 'iya', itu akan menjadi sejarah buatku. Karena aku dapat memegang wajahmu. Jantungku serasa ingin melonjak. Lalu, kau membuatnya sendiri. Dan bertanya padaku "apakah sudah mirip dengan temanmu?". Lagi-lagi, hatiku berdegup kencang. Aku tersenyum kepadanya dan mengiyakannya.
Hari berikutnya lagi, kau masih diduduk di sampingku. Aku berdoa, agar hari itu aku tak dibuat jantungan lagi olehnya. Hanya berbicara sepatah kata saja sudah membuatku gugup. "Tuhan, biarkanlah dia tetap disampingku. Tapi jangan biarkan dia mengajakku berbicara lagi. Aku sungguh-sungguh lelah merasakan debaran ini" doaku saat hari itu. Dia selesai mengerjakan tugasnya, kemudian ia cepat-cepat keluar. Dari pintu ia menengok kearahku, dan berbicara padaku untuk membetulkan jawabannya. 'Ah, lagi-lagi dia membuatku membeku seperti ini' batinku dalam hati. Lalu aku mengikuti petunjuknya, dan membetulkan jawabannya. Lega rasanya hari itu telah berakhir.
Tunggu, masih ada satu hari lagi. Dia sebagai seniorku, memintaku membantunya menjawab soal bahasa inggris. Aku benar-benar mau pingsan. Setiap hari dia membuat jantungku merasa lelah seperti lari berkilo-kilometer. Aku tidak bisa membantunya. Dan akhirnyaa.. Hari itu cepat berlalu.
Hingga saat ini, detik ini pula, aku masih mengingat setiap kejadian kecil yang kamu lakukan pada waktu itu. Kadang aku tersenyum jika mengingat hal itu. Betapa bodohnya aku merasakan hal-hal aneh seperti itu. Jika suatu hari nanti, kita diberikan kesempatan untuk bertemu lagi, kesempatan untuk berbicara lagi, aku akan gunakan itu. Sebaik mungkin. Aku sedikit menyesal karena waktu itu aku tidak sempat berbicara banyak denganmu.

0 komentar:
Posting Komentar