Selasa, 19 Agustus 2014

Waiting You (Part 1)

Title : Waiting You(Part 1)
Author : Arini S.M.
Rating : PG-16
Genre : Romantic
Length : Twoshoot
Main Cast : 
-Jung Yong Hwa CnBlue
-Park Shin Hye
Other Cast :
-Ah Jung Min
Disclaimer : ini asli buatanku sendiri. Tidak menjiplak ff manapun. Cuman inspirasinya dari beberapa ff yang udah saya baca.
Note : Banyak kata-kata yang rancu. Mohon dimaklumi. Baru beberapa kali menulis ff. Enjoy reading 

-OooO-

Dibawah langit malam yang mendung, hembusan angin yang menusuk hingga ke tulang, dan sepi sunyi-nya keadaan di sekitarku, aku masih termenung di jendela kamarku sambil memandangi bulan. Hatiku bergejolak, menahan amarah dan sedih yang berkumpul jadi satu. Hingga langit berubah menjadi hijau dan malam tak lagi berganti siang, laki-laki itu tidak akan pernah membuka hatinya lagi untukku. Harus dengan cara apa lagi agar kau mau menerimaku.

Sudah hampir satu tahun kita berpisah, aku tau aku yang salah. Aku telah membiarkanmu dalam situasi salah paham yang berlarut-larut seperti ini hingga kamu tidak mau lagi bersamaku. Harusnya aku mengejarmu dan berusaha sebisa mungkin menjelaskan semua kesalahpahaman yang telah terjadi. Namun aku terlalu lamban untuk menceritakannya kepadamu hingga aku tak sempat melihatmu sebelum kamu benar-benar pergi jauh dariku. Aku sungguh menyesalinya.

Jika aku bisa mendapatkan semua info tentangmu, aku akan mencarinya meskipun itu akan sulit untukku. Yang aku tau sekarang kau sedang ada di London. Hanya itu. Apakah aku harus mencarimu di kota yang sebesar itu? Semua keluargamu disini juga pindah kesana, dan tidak ada satupun teman-temanmu yang mengetahui keberadaanmu. Aku menyesal. Benar-benar menyesal. Selama setahun ini aku hidup penuh gelisah dan penyesalan. Sangat menyedihkan. Memang. Tapi apa yang bisa kulakukan?

Hingga fajar datang, aku belum juga tidur. Masih berusaha berpikir keras bagaimana membayar semua penyesalan ini. Aku bertekad untuk menemuimu di London. Aku akan mencari ke seluruh penjuru kota untuk menemukanmu. Ya. Aku harus menemukanmu. Aku tidak boleh terlalu lama dalam penyesalan ini.

-OooO-

Kini aku sudah berada di bandara London. Setelah malam itu kuputuskan untuk mencari pria yang selama ini membuatku gelisah, aku meyakinkan diriku sendiri untuk datang kesini. Yang aku bawa kesini hanyalah keyakinanku tentang keberadaan pria itu. Hanya itu.

Aku berjalan keluar dari bandara, aku rasa aku membutuhkan sebuah tempat untuk istirahat sebelum pencarianku berlanjut. Tak jauh dari bandara, ada sebuah hotel sederhana yang tak terlalu mewah. Aku memesan sebuah kamar disana. Lalu aku menjatuhkan diriku ke kasur empuk yang terkesan elegan tapi sederhana. Lagi-lagi aku mendesah. Semoga perjalananku ke kota ini tidak sia-sia. Semoga aku menemukanmu, Yong Hwa oppa.

-OooO-

Rasanya sudah cukup aku bersantai-santai di hotel. Aku harus segera mencarinya. Aku mengunci pintu kamarku sebelum aku membalikkan badanku dan tertegun melihat dua orang di depan kamar nomor 215. Aku melihat seseorang yang sangat kukenal, walaupun dia tidak menghadap kearahku tapi aku mengenali postur tubuhnya. Dan wanita itu... Siapa yang sedang bersamanya? Mereka sedang bertengkar. Oh tidak. Apa mungkin dia pacarnya? Apakah aku sudah terlambat untuk meminta pria itu kembali padaku?

Pria itu menoleh kearahku dan kaget ketika melihat aku ada disana. Dia diam agak lama saat menatapku dari jauh, kemudian pergi begitu saja meninggalkan gadis yang tadi bersamanya. Ya tuhan, aku sudah menemukan pria itu, tapi melihatnya bersama gadis itu, apakah aku harus mengejarnya? Masih ingatkah ia dengan diriku?

Braakk..
Suara pintu dari kamar nomor 215 itu mengagetkanku. Membuyarkan lamunanku. Gadis itu membantingnya dengan kasar. Mungkin ia marah ditinggal pergi begitu saja. Tunggu, tujuanku kesini untuk menjelaskan semua yang telah terjadi kepada 'YongHwa' bukan? Laki-laki pujaanku yang telah salah paham denganku. Aku mengejarnya. Berharap tidak terlambat lagi.

Sebelum ia menutup pintu mobilnya, aku meneriakkan namanya dengan keras. "Yong Hwa..." Dia menoleh ke sumber suara itu. Dan aku masih berlari berusaha mendekati mobil yang sudah siap untuk pergi.

Aku berhenti tepat didepannya. Nafasku terengah-engah. "Chamkamman, aku ingin bicara denganmu. Sebentar saja" aku mengiba didepannya. Memberikan tatapan tulus kepadanya bahwa aku bersungguh-sungguh untuk bicara sesuatu kepadanya.

"Baiklah," ia menutup pintu mobilnya kemudian mengalihkan pandangannya kearahku lagi, "ada apa?" Nada bicaranya agak dingin. Aku tau dia mungkin masih marah denganku.

"Lebih baik kita cari tempat untuk bicara" aku mengajaknya ke sebuah cafe di sebrang hotel. Kita duduk disudut cafe dengan sofa yang nyaman dan beberapa interior klasik.

Aku mengamatinya dari atas ke bawah. Tidak ada yang berbeda. Ia masih dengan rambutnya yang kecoklatan, penampilannya yang keren, tatapan matanya masih seperti dulu walau sedikit terlihat kesedihan didalamnya, dan jam tangan hitam yang selalu melingkar di tangan kirinya. Jam tangan itu hadiahku untuk ulangtahunnya yang ke-22. Aku tersenyum ketika melihat jam tangan itu. Artinya dia masih menginginkanku bukan? Semoga saja.

Aku menarik napas pelan. "Apakah kau baik-baik saja?" Ini bukan basa-basi. Aku sungguh ingin tau keadaannya.

"Kau lihat sendiri kan?" Yong Hwa mengangkat bahunya. Ia tidak tersenyum sedikitpun. Padahal aku rindu dengan senyumnya yang memperlihatkan gigi gingsul manisnya.

Aku tersenyum tipis. "Aku ingin menjelaskan semuanya. Aku datang jauh-jauh kesini untuk menemuimu, untuk menceritakan kesalahpahaman yang telah terjadi diantara kita," Yong Hwa diam saja. "Baiklah, aku mulai menjelaskan" lanjutku. "Selama setahun ini aku hidup dalam penuh penyesalan dan kegelisahan. Tak seharusnya aku membiarkanmu pergi dan tak berkata apapun kepada dirimu. Aku tau aku salah. Sebenarnya, waktu itu aku tidak melakukan apa-apa dengan pria yang kamu lihat di hotel bersamaku. Dia rekan kerja ayahku. Usianya memang muda. Tapi ia bukan siapa-siapaku." Aku berhenti membiarkan yong hwa berkomentar tentang penjelasanku tadi. Tapi ia tetap diam. "Ini hanya kesalahpahaman, kau telah melihatku berkali-kali dengan pria itu di hotel, tapi sungguh itu bukan siapa-siapaku. Setelah kau marah-marah denganku waktu itu dan memintaku putus, aku tidak langsung mencarimu. Aku bodoh. Memang. Sehari setelah itu, aku datang kerumahmu. Dan hanya ada pembantumu yang mengatakan kau pindah ke London. Teman-temanmu pun tidak tau. Kau pergi mendadak seperti itu. Aku salah, aku benar-benar salah. Setiap hari aku menyalahkan diriku sendiri, kenapa tak dari awal aku jujur kalau aku punya teman dari rekan kerja ayahku. Kenapa aku tak menjelaskan semuanya kepadamu saat kau memutuskan aku. Aku menyesali semua itu. Kumohon, maafkanlah aku." Aku menunduk, bulir air mata menetes secara perlahan. "Kembalilah padaku" suaraku melirih.

Aku merasakan sebuah usapan lembut dari tangannya. Tangan yang sudah lama tak memegangi jemariku saat aku kedinginan, saat aku membutuhkan kehangatan. "Berhentilah menangis. Kau kan tau aku tidak suka melihat gadis menangis dihadapanku." Ucap Yong Hwa dengan suara dingin.

Aku belum bisa menghentikkan tangisanku. "Shin-ah..." Panggilnya dengan lembut. "Aku telah memaafkanmu." Ia menyunggingkan senyumnya. Manis sekali. Rasanya sudah bertahun-tahun aku tidak melihatnya tersenyum, padahal baru satu tahun.

"Cincha?" Senyumku mulai mengembang. Syukurlah.

"Tapi.."

"Tapi apa?"

"Aku tidak bisa kembali padamu"

"Kenapa?" Kesedihan itu mulai muncul kembali.

"Aku dijodohkan dengan gadis yang kau lihat tadi di hotel"

Pupus sudah kesempatanku untuk kembali bersamanya. "Tapi kau kan bisa menolaknya." Air mataku mulai keluar lagi. Aku tak sanggup membendungnya.

"Aniyo. Aku tidak bisa menolaknya. Ayahku sudah terikat janji dengan perusahaan ayah gadis itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa" yong hwa menunduk. Ia merasa seperti pengecut yang terkekang dengan peraturan dan permainan ayahnya sendiri.

"Kau mencintai gadis itu?" Tiba-tiba pertanyaan itu muncul begitu saja. Aku tidak rela dia bersama dengan gadis lain. Tapi aku tak apa-apa jika ia bahagia dengan gadis itu.

"Tidak" jawabnya lirih. "Aku masih mencintaimu, Shin Hye" ia tersenyum tipis.

"Tapi bagaimana dengan perjodohan itu?" Aku khawatir dengan semua rencana ayahnya itu.

"Aku ada ide. Kamu mau bantu aku kan?" Senyum Yong Hwa semakin mengembang. Ia membayangkan ide-ide yang ada di otaknya saat ini.

"Tentu" jawabku pasti.

-OooO-

0 komentar:

Posting Komentar