Seorang gadis kecil tengah mengorek-ngorek tas sekolahnya yang bergambar barbie. Ia sedang mencari sesuatu. Di bawah atap kecil sekolah ia bernaung dari derasnya hujan. Matanya mulai berkaca-kaca. Sesuatu yang sedang dicarinya sepertinya tak bisa ia temukan. Air matanya pun jatuh seiring dengan jatuhnya air hujan yang tak juga reda sejak pukul 9 pagi tadi.
Kemudian seorang anak laki-laki datang. Ia berlari-lari kecil dengan membawa payung dari mobil jemputannya.
"Cari apa?" Tanya anak laki-laki itu. Kini seragamnya mulai basah. Walaupun sudah memakai payung untuk menjaganya dari air hujan, tapi angin yang berhembus membuat hujan itu tak jatuh lurus ke tanah.
"Gelang" jawab gadis itu singkat.
"Bentuknya seperti apa?"
"Ada tulisan Sandy" gadis kecil itu masih berusaha mencari gelang itu. Ia celingukan ke bawah kursi yang di dudukinya saat itu dan tanah di sekitarnya. Tapi tak berhasil menemukan apapun.
"Mungkin ketinggalan di kelas"
"Tadi di kelas masih ada. Sewaktu keluar pun masih ada" Air mata yang tadinya telah mengering, kini mulai berjatuhan lagi di pipi halusnya.
Anak laki-laki itu berjalan ke pintu gerbang sekolah. Ia menundukkan kepalanya sambil terus mencari benda yang hilang itu. Bola matanya kemudian terhenti saat melihat benda berkilauan di samping pintu gerbang. Ia mengambil benda itu. Sebuah gelang. Dan nama yang tertulis disana 'Sandy'.
Anak laki-laki itu menghampiri gadis tadi. "Ini milikmu bukan?"
Seketika senyum gadis itu mengembang,ia meraih benda itu dari tangan si anak laki-laki, "Benar, ini milikku"
"Jadi namamu Sandy?"
"Ya"
"Namaku Dani" anak laki-laki itu mengulurkan tangannya yang tidak memegangi payung.
Sandy menyambut uluran tangan itu dan tersenyum,"Terima kasih sudah membantuku mencarinya".
Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil sedan putih datang.
"Ayahku sudah datang. Aku pulang dulu ya. Sekali lagi terima kasih," Sandy berlari meninggalkan Dani. Hujan yang masih tak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti hanya diterobos oleh Sandy ke arah mobil sedan itu.
"Semoga kita bisa bertemu kembali" ucap Dani penuh harap. Suaranya yang lirih dan bahkan tertutupi oleh suara hujan mungkin tidak akan terdengar oleh Sandy.
***
Lima belas tahun kemudian...
Seorang mahasiswi keluar dari ruang dosen sambil membawa beberapa buku di pangkuan tangannya. Langkahnya tergesa-gesa. Ia berjalan ke arah pintu keluar kampus.
Bruukk...
Tanpa disangka ia menabrak seseorang. Dan menjatuhkan buku-buku itu serta sebuah benda kesayangannya yang kini tak lagi muat untuknya.
"Maaf, aku tidak hati-hati," ucap mahasiswi itu. Rambutnya lurus panjang hitam, badannya tinggi, dan wajahnya sangat cantik. Sempurna seperti model.
"Aku juga minta maaf" kata laki-laki yang di tabrak oleh si mahasiswi. Ia mengambil buku-buku yang berjatuhan di lantai dan sebuah gelang.
"Sandy?" Ia terkejut melihat ukiran tulisan di gelang itu.
Nama itu tidak asing baginya. Dan bahkan menjadi bagian dari hidupnya yang selama ini ia cari. Mungkinkah mahasiswi itu adalah orang yang ia cari? Mungkinkah gadis berparas cantik di depannya itu adalah seseorang yang istimewa di masa lalu?
Dani masih jongkok mematung di posisinya sambil mengamati gelang itu. Sementara mahasiswi itu sedikit kebingungan dengan tingkah Dani.
Gadis itu mengambil buku-bukunya dan,"Bolehkah saya mengambil gelang itu?"
Ucapan gadis itu membuyarkan lamunannya,"Ya,ini". Dani langsung menyerahkan gelang itu.
Tanpa basa-basi, ia langsung mengutarakan unek-unek di kepalanya. "Apa kau masih mengenalku?"
Gadis itu menaikkan alisnya, lalu menggeleng pelan.
Dani tersenyum getir. Tentu saja gadis itu telah melupakannya. Mana mungkin kejadian singkat dan terjadi lima belas tahun lalu masih di ingat olehnya?
"Mungkin agak aneh. Tapi ada sesuatu yang aku simpan selama bertahun-tahun," Dani menarik napas pelan dan menghembuskannya. "Lima belas tahun yang lalu, waktu kamu sedang duduk sendiri di depan gerbang sekolah dan mencari sesuatu. Di bawah rintik hujan, aku datang menemuimu dan membantumu mencari sesuatu yang hilang itu. Masih ingat?"
Sandy memutar kembali memori otaknya. Ia ingat kejadian itu. Yang beberapa minggu lalu sudah ia putuskan untuk melupakannya,melupakan kejadian antara pertemuannya dengan laki-laki penarik hatinya. Terlalu muda untuk dikatakan jatuh cinta. Tapi itulah kenangan yang dirasakannya. Bahkan bertahun-tahun ia berusaha mencari sosok anak laki-laki yang membantunya mencari kalung itu. Dan kini, benarkah laki-laki didepannya adalah sosok yang sama dengan yang telah menolongnya waktu itu? Tapi mana mungkin ada orang lain yang tau kejadian itu selain Sandy dan anak laki-laki itu? 'Benar, pasti dia orangnya,' pikir Sandy.
Sandy mengangguk pelan menjawab pertanyaan Dani.
Seketika itu juga perasaan lega dan bahagia menyeruak ke dalam tubuh Dani. Senyumnya mengembang diiringi dengan lompatan pelukan ke arah Sandy.
Sandy agak kaget dengan pelukan yang tiba-tiba itu. Namun akhirnya ia menerimanya.
Dani berbisik pada Sandy,"Terima kasih telah kembali"
***

0 komentar:
Posting Komentar