Title : Secret Admirer
Author : @sabila_arini
Rating : PG-15
Genre : Romance & Happy Ending
Length : Oneshot
Main cast : Zayn Malik 1D & Aiko Ananta
Other cast :
- Niall Horan
- Liam Payne
Disclaimer : Ini asli/orisinil buatanku. Tidak menjiplak ff manapun.Happy reading
Aiko's POV
---
Pengagum rahasia? Mungkin aku pantas disebut seperti itu. Kau tau? Aku hanya mengenalmu sebentar. Setelah setahun aku disekolah ini, aku baru bisa melihatmu saat kelulusan. Benarkah aku mengagumi? Sekilas, aku melihatmu. Dan kau terlihat biasa saja. Kemeja putih dengan jas hitam dan juga dasi, serta sepatu hitammu yang mengkilat membuatmu tampak maskulin. Rambutmu yang sedikit basah dengan jel, aku suka itu.
Entah mengapa aku merasa ingin bertemu denganmu. Rasanya ingin sekali melihatmu walau tidak akan pernah berhadapan denganmu. Aku sadar, aku bukan orang yang cantik seperti idamanmu. Tapi tidak, aku tidak ingin menjadi bagian yang lebih jauh darimu, aku hanya ingin kau menjadi seorang kakak untukku. Usia kita terpaut dua tahun. Dan aku rasa kita memang bisa menjadi sepasang kekasih. Tapi tak semudah itu. Aku menyukaimu, dan kau tidak. Jadi aku harus berhenti mengharapkanmu? Benarkan? Aku hanya boleh menjadi pengagum rahasiamu.
Well.. Chat pertamaku denganmu lewat blackberry massenger membuatku takut dan deg-degan. Takut kalau kamu cuma bakal read pesan aku. Tapi untungnya kamu mau bales chat-ku juga. Walaupun cuma beberapa percakapan, aku sungguh senang. Hari setelah itu aku chat kamu, dan cuma di read doang. Mungkin, kamu sudah lupa sama aku. Yah, memang sih. Aku bukan siapa-siapa kamu. Tapi sedih waktu kamu cuma read pesan-ku.
Dan hari setelah itunya lagi, aku miscontact sama kamu. Walaupun kamu masih di contact bbm-ku, tapi aku tidak bisa apa-apa. Aku hanya bisa membaca setiap pm yang kamu buat Mungkin itulah yang dilakukan oleh "secret admirer".
---
Aku menutup buku harianku itu setelah selesai menulis beberapa kisah yang telah aku alami dengan pria itu. Namaku Aiko. Aiko Ananta. Kedengarannya nama jepang. Tapi aku tidak memiliki darah jepang sedikitpun. Aku tinggal di Bandung. Hari ini, aku telah menyelesaikan buku harianku. Sesuai dengan buku harian itu, saat ini aku sedang mengagumi orang yang usianya terpaut dua tahun lebih tua dariku. Sekarang ia sudah memasuki perkuliahan. Sedangkan aku masih harus sekolah dua tahun lagi di SMA yang dulu juga tempat ia belajar. Aku bertekad untuk masuk ke universitas yang sama dengannya.
***
Skipp...
Dua tahun kemudian, aku masuk ke universitas di Jakarta yang sama dengan pria idolaku. Dan aku diterima disana. Entah angin apa yang telah membawa keberuntungan berpihak kepadaku. Baru hari pertama aku masuk kuliah, aku melihat pria itu sedang bermain basket. Cool. Dia tampak ganteng. Alisnya yang tebal, wajahnya agak tirus, rambut hitamnya yang selalu dengan jel, dan postur tubuhnya yang sangat sempurna. Dia memakai pakaian biasa dan sepatu kets warna putih. Dia melompat memasukkan bola ke ring. Tanpa sadar aku yang sedang berdiri seorang diri di sebelah kanan lapangan menyoraki dan memberinya tepuk tangan ketika bola itu masuk dengan sempurna ke dalam ring. Sontak orang-orang yang sedang bermain basket tersebut menoleh kearahku. 'Apa yang telah kulakukan?' Aku berbalik arah. Tapi seseorang mencengkram lenganku.
"Kau murid baru?"Tanya pria itu tepat setelah aku membalikkan badanku kearahnya. Jantungku berdegup kencang. Rasanya mau copot.
Aku mengangguk pelan. Sepertinya untuk menjawab 'iya' saja aku tidak bisa.
"Aku pernah melihatmu. Dimana yaa?" Pikirnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Zayn.. Cepet bawa kemari bola itu." Seseorang berteriak kearah kami berdua. Orang itu memanggil pria dihadapanku ini. Ya, namanya Zayn Malik. Pria yang selama ini ku kagumi.
Zayn langsung berlari ke arah teman-temannya di lapangan dengan membawa bola. Untung saja, dia tidak jadi berbicara denganku. Lidahku kelu. Aku tidak bisa mengucapkan sepatah katapun saat itu.
***
Suatu hari aku melihat Zayn sedang bermain basket. Aku tau, itu pasti hobinya. Ia seringkali bermain basket di lapangan samping kampus. Jika tidak ada mata kuliah atau sedang bosan pasti ia pergi kesana dan bermain walaupun cuma seorang diri.
Saat itu aku melihatnya tengah bermain sendiri. Aku membuntutinya diam-diam. 'Pasti itu tasnya' tebakku ketika melihat tas warna hitam di bawah pohon. Aku berusaha mendekati pelan-pelan agar ia tak mengetahuiku. Aku membuka tasnya dan memasukkan surat serta coklat yang aku buat sendiri. Sebelum ia menoleh, aku cepat-cepat pergi dari lapangan itu.
Hh.. Rasanya agak kekanak-kanakan memang. Aku tidak berani memberikannya di depannya langsung. Tapi mau bagaimana lagi, cuma itu caranya.
Aiko's POV END
***
Zayn's POV
Siang itu aku memang agak kesal. Pertikaian orang tuaku membuatku tidak betah berada di rumah. Tugas kuliah yang belum aku kerjakan sedikitpun. Dan juga Nial dan Liam, teman baikku, yang entah pergi kemana. Disaat aku membutuhkan mereka, mereka malah tidak ada. Aku membaringkan diriku di tempat yang beralaskan semen itu-lapangan. Tas hitamku, kugunakan sebagai bantal. Aku memandang ke atas, langit biru dengan gumpalan-gumpalan awan putih. Angin bertiup sejuk menghilangkan sedikit kegerahanku setelah bermain basket. Aku mengambil air putih di dalam tas. Dan tak kusangka, aku melihat sebuah kotak bekal makanan dan sebuah surat warna pink. 'Apa ini?' Aku membaca surat itu. Penggemar rahasia? Aku tersenyum nyengir. Ada orang yang menjadi penggemarku? Dulu sewaktu SMA, memang banyak yang sering mengirimi surat seperti ini di lokerku. Tapi tak pernah kubuka. Sekarang tasku pun bisa menjadi pengganti loker. Selama 4 semester aku kuliah, baru ada yang ngirim surat seperti ini. Terlihat kekanak-kanakan. Pasti mahasiswi semester 1. Lalu aku membuka kotak bekal itu dan kucicipi coklat yang bentuknya menarik, tapi entah rasanya.
Uhukk..
Coklat macam apa ini? Rasanya aneh. Aku meninggalkan makanan itu di pinggir lapangan. Biarlah, aku tidak mau memakannya.
---
Hari berikutnya, aku juga mendapat surat seperti itu lagi. Tulisan yang sama dengan yang kemarin. Kali ini tidak dengan coklat. Hanya sebuah surat saja. Hingga hari berikutnya dan berikutnya lagi, penggemar itu masih mengirimiku surat. Isinya kadang puisi. Kadang ungkapan kekagumannya padaku. Kadang cerita nggak jelas. Aku jadi penasaran sama orang yang telah menyampahi tasku dengan surat-surat ini.
Zayn'e POV END
***
Aiko's POV
Tidak terasa sudah satu bulan aku kuliah disini. Hari-hariku biasa saja. Tetap flat dan tidak mengesankan. Aku terus menjadi penggemar rahasianya.
Akhir-akhir ini, aku sulit untuk memberikannya surat lagi. Tas miliknya dijaga sangat ketat. Aku jadi tidak memiliki kesempatan untuk memasukkan surat ini ke dalam tasnya seperti yang biasa aku lakukan.
Siang itu, aku ada rapat dengan beberapa aktifis kampus. Ketuanya adalah Niall Horan, teman Zayn. Tidak banyak yang mengikuti rapat tersebut. Kurang lebih 15 orang. Kami sedang membicarakan tentang bencana yang sering terjadi di Jakarta, salah satunya banjir. Kami mencari cara untuk mengatasi banjir tersebut dengan ala kadarnya kemampuan kami sebagai mahasiswa.
Setelah rapat tersebut selesai, Niall memanggilku. Kebetulan aku adalah wakil ketua dari kegiatan ini.
"Nanti sore, kamu bisa ke rumahku tidak? Kita harus bikin proposal sebelum tanggal 20". Aku dan Niall baru beberapa kali bertemu. Tapi ia orang yang supel. Kita terlihat sangat akrab.
Sebelum aku menjawab pertanyaannya, ia malah bertanya lagi,"atau aku yang kerumahmu?"
"Tidak. Aku saja yang kerumahmu" buru-buru aku menjawabnya. Aku di jakarta kan cuma ngekost. Lebih baik aku yang kerumahnya daripada ia datang ke kos-kosanku.
"Baiklah, aku tunggu jam 4 ya" ia berlalu pergi.
***
Aku datang ke alamat yang sudah diberikan Niall. Karena kami butuh kerja sama satu sama lain, jadi mau tidak mau kami bertukar nomor telepon. Ya, dia sering menelponku. Hanya untuk kepentingan kegiatan yang sedang kami lakukan.
Aku membunyikan bel yang kedua kalinya. Tapi belum juga ada jawaban. Aku hendak membunyikannya kembali sebelum akhirnya seseorang membukakan pintu. Aku terbelalak. Zayn? Kenapa dia ada disini? Ia berpakaian biasa, celana pendek dan kaos, wajahnya keliatan baru bangun dari tidurnya.
"Cari siapa?" Ia menguap dan berbicara agak tidak jelas.
Aku masih melongo. Laki-laki ini kenapa ada disini. Ini benar rumahnya niall kan?
"Hei, aiko. Masuk sini" sebuah suara datang dari belakang. Niall menyuruhku masuk. Zayn yang masih setengah tak sadar masuk ke dalam rumah. Ia tidak menghiraukanku yang akhirnya memasuki ruang tamu niall. Aku masih mengamatinya hingga punggungnya tak terlihat lagi.
"Kau kenapa?" Tanya Niall saat melihatku yang terus memandangi Zayn.
"Ah, tidak apa-apa" aku mengalihkan pandanganku ke Niall.
"Maafkan temanku tadi ya. Ia tidak menyapamu dengan baik." Niall tersenyum.
"Dia Zayn kan?" Aku basa-basi menanyakannya. Padahal jelas-jelas aku tau, kalo itu memang Zayn.
"Iya. Kok kamu tau dia?" Niall sedikit heran.
Aku nyengir,"Anak yang jago basket dan ganteng seperti dia, satu kampus pasti udah tau. Dia dulu kakak kelasku sewaktu SMA"
"Ohh.." Niall manggut-manggut. Ia mengeluarkan laptop dan beberapa kertas-kertas penting yang harus ia tulis ulang di proposalnya nanti.
"Sepertinya dia baru bangun tidur?" Aku menanyakan hal yang tak jelas. Kenapa aku bertanya seperti itu? Tidak ada hubungannya kan dia mau baru bangun, baru makan, baru ngapain. Toh aku bukan siapa-siapa dia.
"Iya. Akhir-akhir ini dia tinggal di rumahku. Dia sedang ada banyak masalah dengan keluarganya" aku prihatin mendengarnya. Pantas saja ia sering menumpahkan emosinya dengan bermain basket di kampus.
Aku dan Niall mulai membuat proposal. Diam-diam, aku menunggu Zayn keluar dari rumah. Tapi sampai aku dan niall menyelesaikan proposal yang sudah hampir jadi ini, Zayn tak kunjung keluar. Sebenarnya dia sedang apa? Betah sekali berlama-lama di dalam kamar.
"Hei!" Niall mengayunkan tangannya didepan wajahku. Ia membuyarkan lamunanku."Kau sedang apa sih? Daritadi aku perhatikan, kau seperti mencari seseorang?" Niall celingukan melihat ke kanan dan kiri, mencari sosok yang entah siapa tidak ia ketahui.
"Tidak kok. Aku.." Aku melihat jam tanganku."Sepertinya aku harus pulang, sudah jam 9 lewat, lanjutkan besok saja ya" ucapku mengalihkan pembicaraan.
"Yaa, baiklah. Aku juga sudah lelah menatap laptop terus" Niall merebahkan badannya. "Kau ingin kuantar pulang tidak?" Lanjutnya.
"Aku bisa pulang sendiri kok." Aku bangkit dari dudukku.
"Tapi hati-hati ya." Niall tersenyum manis.
Aku balas tersenyum.
***
Niall berlari terbirit-birit ke salah satu kamar rawat di rumah sakit. Ia membuka pintu dan berlari ke arahku.
"Kau baik-baik saja?" Nada bicaranya terlihat cemas dan khawatir.
Semalam ketika perjalanan pulang dari rumah Niall, tidak sengaja ada mobil yang menyenggolku. Pengemudi mobil itu sepertinya sedang mabok. Ia pergi begitu saja. Tangan dan kakiku berdarah. Tapi tidak terjadi hal yang parah.
"Sudah kubilang, seharusnya kau kuantar pulang" wajahnya menegang. Dia seperti ketakutan.
"Nial, aku tidak apa-apa. Hanya luka sedikit. Seharusnya aku mau langsung pulang dari rumah sakit, tapi berhubung sudah jam 12 malam, aku menginap disini. Sungguh. Ini hanya luka biasa" ekspresi Niall sangat ketakutan.
Niall menghembuskan nafasnya pelan. Ia mendudukkan dirinya ke kursi disamping ranjang tempat tidurku.
"Aku mengkhawatirkanmu" suaranya melemah.
Dia khawatir padaku. Sebenarnya ada apa dengan dirinya. Di telepon pun dia sering menanyakan 'apa aku udah makan?' 'Lagi apa?' 'Tidurnya nyenyak atau tidak?' Dia sering menanyakan hal-hal semacam itu. Dia perhatian sekali. Tapi apa ada maksud terselubung di balik semua perhatiannya itu?
"Lihat, aku baik-baik saja" aku tersenyum padanya.
"Kau tidak tau ya? Setelah perban di tangan dan kakimu dibuka nanti, akan menimbulkan bekas luka. Aku tidak suka melihat tubuhmu terdapat bekas luka seperti itu. Aku merasa aku telah gagal melindungimu." Niall berbicara dengan menunduk.
Apa maksudnya sih? Melindungiku? Ah, semakin banyak pertanyaan muncul di otakku.
"Kamu ngomong apa sih?" aku tak mengerti apa yang sedang dibicarakan Niall.
"Aku rasa sudah saatnya aku jujur sama kamu. Aku.." Niall menelan ludahnya sendiri. Beberapa kali ia mengambil nafas dan menghembuskannya pelan-pelan. "Aku suka sama kamu. Sejak dua minggu yang lalu, kamu mengikuti kegiatan aktifis kampus. Aku mulai tertarik sama kamu. Mungkin menurutmu itu waktu yang sangat cepat, tapi kenyataannya memang seperti itu. Waktu aku mendengar kalau kamu kecelakaan, rasanya aku hancur. Sejak tadi malam setelah kau mengabariku, aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku menyalahkan diriku sendiri. Seharusnya tadi malam kau kuantar pulang. Tidak akan ada kejadian seperti ini kan?" Niall menitikkan air mata.
Aku harus jawab apa? Dia sedang menyatakan perasaannya kepadaku di saat seperti ini. Tapi aku tidak memiliki perasaan sedikitpun dengannya.
"Aiko, aku ingin selalu disampingmu, menjagamu dan melindungimu. Maka dari itu, maukah kamu jadi pacarku?" Niall memegangi tanganku. Menggenggamnya dengan erat.
Aku melepaskan genggamannya. "Maaf ya, ada seseorang yang sudah mengisi hatiku" aku melihat wajahnya semakin sedih. "Tapi kita masih bisa berteman." Aku menyunggingkan senyumku. Niall balas tersenyum walau sedikit dipaksakan.
***
Setelah niall menyatakan perasaannya kepadaku, hubungan pertemanan kami tidak hancur sama sekali. Mungkin ada rasa sakit dihatinya karena aku telah menolaknya. Tapi hal itu dapat diterimanya dengan besar hati. Aku tau niall orang yang baik, dia bukan pendendam. Aku yakin dia mau menerima alasanku menolak dia. Bahkan sekarang hubungan kami semakin dekat walau masih batas pertemanan.
Karena setiap hari, aku bermain ke rumahnya, dan di kampus pun bertemu dia, akhirnya aku kenal dengan teman-temannya, termasuk Zayn, yang kini bukan lagi sebagai idola tapi pujaan hatiku. Hal itu menjadi kesempatan untukku memasukkan surat-suratku, termasuk surat yang isinya ku tulis sebagai motivasi dan dukungan untuk dia yang saat ini sedang banyak mengalami masalah.
Aku dan Niall masuk ke ruang rapat untuk pertemuan rapat yang kedua membahas masalah yang kemarin, mengenai bencana di Jakarta. Zayn juga ikut masuk. Tapi teman mereka yang satunya, yaitu Liam tidak ikut dengan kami. Ia sudah punya pacar. Lebih memilih untuk berjalan-jalan dengan pacarnya. Zayn duduk disebelah kiriku. Ia hanya mendengarkan saja tanpa tau apa yang sedang kami bicarakan. Karena bosan melihat rapat kami, Zayn mundur beberapa langkah serta mengambil tasku. Mengotak-atik isinya. Tapi aku tidak tau kalau Zayn mengambil tasku.
Zayn menemukan perlengkapan make-up yang sederhana. Bedak, lip ice, dan blush-on. Dia mengorek-ngorek tasku lebih dalam lagi,dan menemukan sebuah surat yang belum sempat kuberikan padanya. Dia membuka surat itu. Dia agak kaget. Lalu aku datang menghampirinya dan menyambar tas serta surat itu dari tangannya.
"Apa yang kamu lakukan? Seenaknya mengambil tas orang lain?" Baru kali ini aku berbicara dengan nada tinggi terhadap pria di depanku ini. Aku malu dia melihat surat ini. Seharusnya biarkan aku jujur di hadapannya langsung daripada ia yang membongkarnya.
"Jadi, kamu..." Zayn menunjuk kearahku tanpa melanjutkan perkataannya. Tiba-tiba dia memelukku. Apa yang sedang dilakukannya? Anehnya, aku tidak memberontak dan tidak melepaskan pelukannya. Aku justru membiarkan dia memelukku dengan erat.
Setelah agak lama, aku mencoba melepaskan pelukannya. Rasanya aku hampir mati tercekik dipeluk erat seperti itu olehnya.
Aku diam dan tak bisa berkata apapun.
"Kau yang selama ini memasukkan surat-surat itu ke dalam tasku kan? Semua itu dari kamu kan?" Zayn kelihatan bahagia.
Tidak jauh dari tempat aku dan Zayn berdiri, Niall sedang memandangi kami berdua. Terlukis diwajahnya sebuah kesedihan.
Aku mengangguk menjawab pertanyaan Zayn. Ia menarik tanganku dan menciumnya. "Terima kasih telah menghiburku. Terima kasih atas semua nasehat yang telah kamu berikan. Dan terima kasih juga untuk perhatianmu kepadaku. Selama ini aku mencari petunjuk tentang pengirim surat itu. Dan ternyata kau. Entah kenapa, surat yang kau buat itu sudah membuatku jatuh cinta pada penulisnya." Zayn masih tersenyum dengan bahagia.
Aku memandang ke arah Niall lagi. Apakah dia tidak apa-apa? Aku kembali menatap pria didepanku."Zayn, kau menyukaiku?"
"Tentu, aku sangat menyukaimu. Kaulah yang selama ini kucari" jawabnya dengan pasti.
"Kau menyukaiku atau surat-suratku?" Aku memastikan kembali.
"Aiko. Aku menyukaimu. Aku jatuh cinta denganmu. Bukan dengan suratmu. Tapi surat-surat itulah yang telah membuatku menyukaimu" Zayn semakin mempererat genggamannya.
Aku tersenyum lega. Dia juga menyukaiku. Tapi bagaimana dengan Niall? Aku kasihan melihatnya. Aku harus bertanya padanya terlebih dahulu. Bagaimanapun juga, Niall dan Zayn adalah teman baik. Aku tidak mau mengacaukan hubungan mereka.
"Tunggu sebentar" aku melepaskan genggaman Zayn dan berlari kecil ke arah Niall.
"Niall, dia orang yang telah mengisi hatiku", aku menoleh sekilas ke arah Zayn. "Sejak SMA, aku telah mengaguminya. Bahkan lebih dari sekedar kagum, kini aku juga mencintainya. Jika persahabatan kalian lebih penting, aku tidak akan menerima cintanya".
Perlahan Niall mulai tersenyum,"Tidak,Aiko. Persahabatan kita memang penting. Tapi jika kamu memang mencintainya, aku akan membiarkanmu bahagia bersama Zayn".
"Benarkah? Persahabatan kalian tidak akan hancur kan?" Aku memastikan kembali. Aku tidak ingin merusak persahabatan mereka.
"Iya,benar". Niall membuka tangannya,"Bolehkah aku memelukmu?"
Aku tersenyum dan memeluknya.
Kemudian aku dan Niall berjalan ke arah Zayn. Ia terlihat kaget. Mungkin dia pikir aku dan Niall telah berpacaran. Aku berhenti didepannya dan menatap matanya lekat-lekat. "Zayn, aku juga mencintaimu". Aku langsung meraih pinggangnya dan memeluknya. Kali ini aku benar-benar bahagia.
***

0 komentar:
Posting Komentar