Selasa, 19 Agustus 2014

Waiting You (Part 2)

Title : Waiting You (Part 2)
Author : Arini S.M.
Rating : PG-16
Genre : Romantic
Length : Twoshoot
Main Cast : 
-Jung Yong Hwa CnBlue
-Park Shin Hye
Other Cast :
-Ah Jung Min
Disclaimer : ini asli buatanku sendiri. Tidak menjiplak ff manapun. Cuman inspirasinya dari beberapa ff yang udah saya baca.
Note : Banyak kata-kata yang rancu. Mohon dimaklumi. Baru beberapa kali menulis ff. Enjoy reading 

-OooO-

Akhirnya semua rencanaku berjalan dengan lancar. Walaupun sekarang Yong Hwa sedang di jodohkan dengan gadis lain, semoga saja rencana dan ide-ide yang tadi ia bicarakan dapat menggagalkan perjodohan itu. Walaupun aku tak yakin. Tapi aku percaya dengan kekuatan cinta.

Yong Hwa mengajakku makan malam sebagai salah satu cara menggagalkan perjodohannya dengan gadis lain. Ia memintaku menemuinya di sebuah restoran. Ia tak bisa menjemputku dan menyuruhku mencari restoran itu sendiri. Sedangkan dirinya akan membujuk ayahnya untuk mengikutinya ke restoran itu. Ia akan mengenalkanku pada ayahnya.

Aku memandangi sesosok gadis cantik yang ada dicermin. Gaun warna putih yang sederhana, sepatu hak warna putih yang membuatku semakin tinggi, beberapa aksesoris di leher dan tanganku, serta model rambut bergelombang--memang dari sananya sudah bergelombang. Semua itu aku dapatkan dari Yong Hwa. Ia sengaja membelikannya untuk menjalankan rencana ini. Aku tidak mungkin pergi ke London membawa baju gaun pesta seperti itu.

Sudah berapa lama aku ada didepan cermin ini. Aku tersenyum simpul. Semoga rencana ini berhasil. Aku mengambil tas dan blazerku--yang juga dibelikan Yong Hwa, bukannya aku matre tapi Yong Hwa tulus memberikannya dan bukan aku yang memintanya. Sudah jam 7 malam, aku tidak boleh berlama-lama lagi. Aku segera turun dan mencari taksi menuju ke restoran itu.

-OooO-

Sesampainya di restoran, aku melihat laki-laki yang sangat tampan dan keren duduk di salah satu meja dekat jendela. Aku menghampirinya. Laki-laki itu bersama dengan pria yang lebih tua, ayahnya.

"Annyeong" aku memberi salam pada laki-laki tua yang rambutnya sudah hampir memutih semua sambil menundukkan badanku.

Laki-laki tua itu hanya tersenyum sinis. Seakan-akan tidak menyukaiku. Yong Hwa tersenyum saat melihatku. Ia menyuruhku duduk disampingnya.

"Appa.." Yong Hwa memulai percakapan. "Ini adalah yeoja yang telah mengambil hatiku. Namanya Park Shin Hye. Aku mencintai yeoja ini." Pria disampingku ini menoleh kearahku sambil tersenyum manis. "Ayah bilang jika aku dapat membawa yeoja yang benar-benar aku cintai, ayah akan membatalkan perjodohanku dengan Jung Min, anak dari rekan kerja ayah"

Rahang ayahnya menegang. Giginya gemeletuk menandakan ia sedang menahan amarah. Perlahan, ayah Yong Hwa menarik napas dan berkata,"Benarkah kau mencintai gadis ini dibanding Jung Min?"tanya Ayahnya.

"Ne" jawab Yong Hwa mantap.

"Tapi ayah tidak mau percaya begitu saja". Aku semakin menunduk. "Ayah ingin kalian berjauhan selama tiga bulan. Ayah ingin melihat bagaimana kesetiaan kalian satu sama lain. Dan jangan pernah berkomunikasi sampai tiga bulan itu selesai".

Yong Hwa memandangku dan bertanya kepadaku tentang kesiapanku menjalani permintaan ayahnya ini. Hanya dengan ekspresiku yang tersenyum mantap, ia memberikan jawaban kepada ayahnya. "Baik,ayah. Aku dan Shin hye dapat melaksanakan perintah ayah itu. Tapi setelah itu aku ingin menikahi dia dan perjodohanku dengan Jung Min dibatalkan."

"Mulai detik ini juga, kalian tidak boleh saling bertemu"Ayah Yong Hwa menegaskan kalimatnya. "YongHwa, ikut ayah pulang". Ia bangkit dari duduknya dan keluar restoran menuju mobil. Yong Hwa yang masih disampingku menatapku lembut,"Tenang saja, semua akan baik-baik saja. Tiga bulan tidak lama kan?"

Iya. Tiga bulan memang tidak lama. Aku bisa bertahan satu tahun tanpa kabar darinya, tanpa bertemu dengannya, dan tanpa komunikasi sekalipun. Aku rasa tiga bulan waktu yang singkat. Walaupun aku masih ingin melepas rindu dengan pria disampingku ini. Tapi biarkanlah semua ini berjalan. Aku yakin cinta akan berpihak kepada kami berdua. Karena dia mencintaiku dan aku mencintainya.

"Ya, semua akan baik-baik saja. Aku hanya perlu menunggumu selama tiga bulan." Yong Hwa mencium keningku untuk yang terakhir kalinya sebelum ia benar-benar pergi dan menemuiku kembali tiga bulan depan.

-OooO-

Baru satu minggu berlalu, tapi rasanya sudah seperti satu tahun. Aku merindukannya. Aku terus-terusan meyakinkan diriku bahwa tiga bulan bukan waktu yang lama. Hhh.. Aku menghempaskan diriku ke kasur. Untuk apa aku ada disini? Aku tidak punya pekerjaan di London. Uangku juga semakin hari semakin menipis. Padahal pekerjaanku di Seoul masih banyak yang terbengkalai. Aku menatap langit-langit kamarku. 'Apa sebaiknya aku pulang ke Seoul saja?' Pikirku. Nanti jika hampir waktunya tiba, aku akan datang lagi kesini.

Fix. Sudah kuputuskan untuk pulang ke Seoul dan kembali lagi tiga bulan depan. Aku memasukkan seluruh pakaianku ke dalam koper. Aku keluar dari kamar dan mengamati kamar nomor 215. Kamar yang beberapa waktu lalu telah mempertemukanku kembali dengan Yong Hwa. Hanya sekejap. Kini aku harus menahan rindu untuk bertemu dengannya lagi.

-OooO-

Tiga bulan berlalu, hari ini aku sudah bersiap-siap kembali untuk menemui Yong Hwa. Ah, rasanya sudah beribu-ribu tahun aku tidak melihatnya. Bedanya dengan penantianku yang dulu adalah sekarang aku tau kalau dia pasti akan menemuiku.

Hari itu juga saat menampakkan kaki di London, aku segera mencari rumahnya yang ada di London. Ku ketuk pintu rumahnya berkali-kali, tapi tak ada jawaban. Semua pintu dan jendela tertutup rapat. Apa mereka sedang pergi? Aku berjalan lunglai keluar dari pekarangan rumahnya. 'Dia ada dimana sekarang?' Aku mulai cemas.

Sekarang aku tidak tau akan kemana. Menunggunya di depan rumahnya sampai ia pulang, atau mencari hotel.

Ada seorang ibu muda sedang membuka gerbang rumah di sebelah rumah Yong Hwa. Aku menghampirinya dan bertanya,"Permisi, apakah rumah ini tidak ada orangnya?" Tanyaku sambil mengacungkan jari kearah rumah Yong Hwa.

"Oh, rumah itu. Sebulan lalu mereka pindah. Saya tidak tau mereka pindah kemana. Yang jelas anak laki-laki dirumah itu memberi ibu surat untuk diberikan kepada seorang gadis yang akan datang sebulan lagi. Dia bilang begitu." Keluarga yong hwa pergi lagi? Mereka kemana? Bagaimana aku mencarinya?

"Benarkah? Saya sedang mencari laki-laki itu. Bolehkah saya melihat surat itu,bu?" Sedikit harapan masih ada untukku.

"Tunggu sebentar, ibu ambilkan"

Tak lama kemudian ibu itu keluar dari rumahnya dengan membawa sebuah surat. "Ini nak. Apakah nama kamu Park-Shin-Hye?" Ibu itu menanyakan namaku sebelum menyodorkan suratnya. Ia berbicara agak kesulitan karena namaku berbahasa korea sedangkan ibu ini tidak bisa berbahasa korea.

"Iya. Itu nama saya."

"Baiklah. Ini." Ibu itu menyodorkan suratnya kearahku sambil tersenyum.

"Terima kasih" aku berkali-kali menundukkan badanku. Aku benar-benar berterima kasih. Ini satu-satunya petunjuk untukku.

-OooO-

Aku mencari tempat untuk membaca surat ini. Aku pergi ke suatu taman, dan membuka surat itu. Perlahan aku mulai membacanya.

To Shin Hye,
My lovely

Shin Hye, kalau kau membaca surat ini aku sudah tidak ada lagi di London. Ayahku memindahkanku lagi. Ia ingin membawaku ke Paris. Maafkan aku karena tidak menepati janjiku. Aku sudah melawan ayahku. Namun ia malah semakin menjagaku dengan ketat. Setidaknya aku belum dijodohkan. Dan aku yakin, ayah tidak akan menjodohkanku dengan Jung Min. Setidaknya ada satu kepastian yang kau tau, aku mencintaimu selamanya. Aku telah mendengar alamat rumah yang akan kami tinggali di Paris. Di surat ini sudah aku lampirkan alamatnya. Jika kau ingin menyusulku kemari. Tapi jika tidak, kau harus menungguku selama satu tahun lagi. Aku harus menggantikan pekerjaan ayahku yang sangat banyak. Setelah itu, aku akan menemuimu di Seoul. Maafkan aku harus menyusahkanmu datang ke London. Bertahanlah. Aku yakin kita sama-sama kuat untuk menjalani semua ini.

Yong Hwa,
Your lovely

---
Aku hampir menitikkan air mataku. Menunggu lagi? Aku ingin menangis sekencang-kencangnya. Aku tau aku dapat menjalaninya. Tapi membendung rasa rindu yang telah lama aku simpan ini? Itu hal yang tersulit. Aku tidak mungkin pergi ke Paris. Uang untuk pergi ke London saja pas-pasan. Bagaimana mau ke Paris? Hhh.. Aku mendesah kesekian kalinya. Hal yang harus aku lakukan adalah kembali ke Seoul, melakukan pekerjaanku, dan menunggu Yong Hwa selama satu tahun.

-OooO-

Aku melihat kalender di dekat meja kerjaku. Bulan oktober, itu artinya tinggal dua bulan lagi. Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya.

-OooO-

Aku duduk di sebuah cafe, tempat aku dan Yong Hwa pertama kali berkencan. Ini sudah satu tahun aku menunggunya. Dia memintaku menunggu di cafe itu. Disana terlihat sepi. Hanya segelintir orang saja yang ada di dalam cafe tersebut. Mungkin orang-orang lebih memilih tinggal di dalam rumah karena cuaca diluar sangat dingin. Memang sangat dingin. Bulan desember di Korea sudah seperti di kutub. Suhunya minus delapan derajat, aku yang telah memakai double kaos tebal dan ditutupi dengan mantel tebal saja masih merasa kedinginan.

Enam menit lagi jam menunjukkan pukul lima sore. Aku sengaja datang lebih awal. Menunggu, aku sudah terbiasa menunggu.

Hiasan pintu di cafe berbunyi, itu artinya ada seseorang yang masuk ke cafe. Aku menoleh ke pintu itu yang kebetulan berlawanan arah dengan arah dudukku. Senyum itu menghiasi wajahnya. Senyum yang telah lama tak kulihat. Aku langsung berhambur ke pelukannya. Laki-laki itu, Yong Hwa. Aku dapat melihatmu lagi. Aku memeluknya erat. Seakan tak ingin membiarkannya pergi lagi. Tiba-tiba hawa yang hangat menyeruak ke dalam tubuhku. Ada kehangatan yang selama ini kuinginkan. Seluruh rinduku telah lepas begitu saja saat aku memeluknya. Cukup lama kami berpelukan di depan pintu cafe. Aku melepaskan pelukanku, dan mengajaknya duduk di tempat yang tadi telah ku duduki.

"Bagaimana kabarmu?" Tanya Yong Hwa. Pertanyaan itu sama seperti saat aku menanyakan kabarnya di London.

"Menurutmu?" Aku mengerucutkan bibirku. Mencoba seolah-olah kesal dengannya.

"Kau marah denganku? Oh.. Ayolah. Aku tidak akan pergi lagi. Ada berita baik yang akan kusampaikan" Yong Hwa tersenyum penuh misteri.

"Mwo? Berita apa?" Tanyaku masih kesal.

"Ayah akan segera menikahkan kita. Semuanya sudah berakhir. Kita akan bersatu kembali" Lagi-lagi Yong Hwa tersenyum. Gigi gingsulnya manis sekali.

Aku tersenyum tipis dan juga menangis terharu. Yong Hwa mendekatkan kursinya denganku. Dan mengusap air mataku. Ia menarik bahuku dan menenggelamkanku ke dadanya. Aku menangis terharu. Bahagia.

-OooO-

0 komentar:

Posting Komentar