Rasanya
masih teringat dan terbayang dengan jelas memoriku tentang tempat itu. Tempat
dimana aku bersama teman-teman beruntung lainnya menempa diri menjadi orang
yang lebih baik. Akademi Militer Magelang, tempat istimewa dalam sejarah
hidupku yang tak pernah ku bayangkan dapat masuk dan belajar di dalamnya.
Berkat beasiswa Karya Salemba Empat, aku dan 215 penerima beasiswa KSE dapat
mengikuti pelatihan di Akmil selama 10 hari dari tanggal 3-13 Maret 2019.
Kegiatan pelatihan ini diberikan kepada penerima beasiswa yang donaturnya
adalah PT Perkebunan Nusantara 3 dan sebagian penerima beasiswa dari Give2Asia.
Kegiatan ini diikuti oleh 31 PTN di Seluruh Indonesia mulai dari Aceh sampai
Papua dengan jumlah 216 peserta.
H-7
sebelum kegiatan kondisi badanku sangat tidak fit. Aku demam, flu, batuk, pilek dan berlangsung hingga menjelang
kegiatan camp. Aku membawa surat keterangan sakit bukan sehat, tapi untungnya
selama di Akmil badanku tidak drop
lagi. Hari ini akan aku ceritakan semua pengalaman terbaikku di Akmil selama 10
hari.
Awal
bulan Februari saat pertama kali aku tahu bahwa aku menjadi salah satu peserta
pelatihan bela negara dan kepemimpinan di Akmil yang aku rasakan adalah aku
antusias, semangat, merasa bangga juga, dan sedikit khawatir karena
ekspektasiku Akmil merupakan tempat yang sangat keras dan ketat dalam disiplin.
Namun, aku optimis bisa mengikutinya. Kemudian seminggu sebelum kegiatan, aku hectic mencari perlengkapan kesana
kemari. Meminjam kaos polo milik teman, pinjam sepatu, pinjam celana, dan
sebagainya. Minta doa restu dari teman-teman dan orang tua supaya aku baik-baik
saja disana wkwk.
Sehari
sebelum berangkat camp, persiapan sudah matang. Semua perlengkapan sudah masuk
koper dan tas. Tapi hatiku goyah, rasanya ingin mengundurkan diri karena takut
dan enggan keluar dari zona nyamanku di kehidupan kampus. Akhirnya mau tidak
mau aku harus tetap berangkat. Aku sudah menyatakan kesediaanku mengikuti camp
dan jikalau aku mengundurkan diri maka konsekuensinya sangat besar. Bisa saja
beasiswaku di pending atau bahkan di-cut dari beasiswa KSE ini. Perlu diketahui
juga, kalau pelatihan ini menghabiskan biaya sama dengan jumlah beasiswa KSE
yang aku terima selama satu tahun, maka dari itu kami yang memiliki kesempatan
mengikuti pelatihan ini harus bersyukur dan bersemangat untuk menjalaninya.
Rombongan
dari Undip berjumlah 20 orang. Kami berangkat hari Minggu tanggal 3 Maret 2019 pukul
9 pagi dari Tembalang dengan menggunakan bus yang disediakan oleh yayasan.
Sedangkan teman-teman lain yang dari luar Pulau Jawa sudah berangkat sejak hari
Sabtu. Semua tiket pesawat atau kereta PP dibelikan oleh pihak yayasan.
Rombongan Undip sampai di Akmil sekitar pukul setengah 1 siang. Kami makan nasi
rica-rica yang kami beli dari Tembalang. Meeting point rombongan selain rombongan
Undip ada di kampus UGM. Sehingga sebagian besar mereka menginap di Jogja dulu.
Rombongan mereka sampai di Akmil sekitar pukul setengah 3 siang. Mereka
dijemput ke UGM dengan menggunakan truk TNI.
Saat
mereka sampai, kami anak-anak Undip baru saja bangun dari tidur siang kami
wkwk, lebih tepatnya istirahat. Karena selama kami menunggu rombongan lain datang,
kami dipersilahkan untuk istirahat di dalam barak. Hari pertama kami masih
santai karena ternyata pembukaan acaranya adalah hari Senin tanggal 4 Maret.
Dan mulai sejak itu, kami sudah tidak diperbolehkan menggunakan HP. Semua HP
peserta dikumpulkan kepada officer.
Nah
mulai dari bagian ini akan aku ceritakan memori utama yang paling berkesan
dalam pelatihan ini. Sejak hari pertama kami sudah mulai di-pressure, misalnya
untuk makan, kami hanya diberi waktu 5 menit untuk menghabiskan makanan. Untuk
makan snack pagi, kami hanya diberi waktu 1 menit untuk menghabiskannya. Setiap
kesalahan selalu kami tebus dengan push up. Bahkan di hari pertama, aku ingat
waktu itu sore hari kami sedang diajak berkeliling akmil dengan jalan kaki,
namun barisan kami tidak rapi, gerak kaki kami masih berantakan, pelatih dari
TNI menghukum kami untuk guling-guling di aspal, untuk merayap di tanah. Apa
yang dirasakan? Tentunya pusing, mual, marah, pengen berhenti dan pulang saja.
Tapi kami berpikir dua kali untuk melakukan itu. Kami adalah manusia terpilih
yang bisa belajar di Akmil maka akan sangat disayangkan jika kami menyerah di
awal. Dan kami yakin bahwasanya segala hukuman yang kami dapatkan merupakan
cara mendidik kedisiplinan kami.
Di
awal-awal pelatihan kami masih butuh penyesuaian dengan segala tata tertib dan
kedisiplinan yang diwajibkan oleh para pelatih. Kami masih sering terlambat
saat dipanggil untuk kumpul, masih belum kompak, apatis, dan sebagainya. Namun
seiring berjalannya waktu, kami mulai mengenal satu sama lain, saling
mengingatkan untuk tidak terlambat, saling berbagi banyak hal misalnya makeup
wkwk, saling membantu apabila ada teman kami yang tidak bisa menghabiskan
makanannya.
Selama
10 hari itu, kami selalu bangun jam 4 pagi dan tidur jam 12 malam. Kegiatan
kami sangat padat. Setelah bangun, kami diwajibkan untuk merapikan tempat
tidur. Lalu sholat subuh dan senam pagi. Setelah itu pukul setengah 6 pagi kami
harus sudah siap untuk sarapan. Lalu pukul setengah 7 kami mulai materi. Kadang
kami menerima materi di luar ruangan misalnya materi PBB, materi motivasi atau
lainnya. Kadang juga di dalam ruangan, nama ruangannya adalah Lilirochli. Yang
entah kenapa setiap kali kami masuk ke ruangan itu hawanya mengantuk wkwk.
Materi berlangsung sampai pukul 9 malam. Sehingga seringkali kami mengantuk
saat materi sore/malam. Hal paling berkesan adalah ketika ada diantara kami yang
mengantuk, Pelatih Heri akan mengoleskan freshcare di bawah mata kami dan leher
kami. Menurutku itu momen lucu yang akan selalu teringat.
Ada
satu pelatih yang selalu aku ingat juga, namanya pelatih Agus. Kami disebut
beliau sebagai loyalis. Apabila kami berbuat kesalahan, kami akan dipanggil
sebagai ‘Pengkhianat’. Dan jika kata itu terucap dari mulut pelatih Agus, kami
akan langsung memposisikan diri untuk push up 5 kali. Dan yaaa, disana kami
benar dianggap salah, kami salah yaa salah. Jadi tidak ada yang benar. Kami
hanya harus patuh dan taat saja. Lalu selama dua malam berturut-turut kami jadi
‘pocong’ akmil wkwk. Kesalahan kami adalah ada sebagian peserta yang kurang
rapi dalam menata sprei atau tempat tidurnya. Sehingga kami dihukum pada malam
hari sebelum apel malam untuk menggunakan sprei sebagai penutup tubuh sampai
atas kepala dan bantal diletakkan diatas kepala. Ini momen lucu dan konyol yang
pernah kami alami.
Di
Akmil kami juga merasakan momen-momen bahagia yaitu saat makan malam bersama
taruna. Kami diberi kesempatan untuk makan malam bersama taruna tingkat 1
sampai taruna tingkat 3. Jadi dalam satu meja panjang mungkin ada sekitar 20
kursi yang diisi 17 taruna dan 3 peserta. Aku ingat, di meja kami ada aku sama
Juli teman satu pleton-ku, dan satu cowok di ujung meja. Sebelah kananku taruna
tingkat 1 dan sebelah kiriku taruna tingkat 2. Depanku juli, sebelah kiri juli
taruna tingkat 3. Untuk taruna tingkat 4 tidak ada di Akmil. Mereka sedang
melakukan kegiatan diluar selama 6 bulan, aku kurang paham kegiatannya. Jadi di
meja itu kami berbincang-bincang tapi tidak terlalu leluasa. Karena ada senior
tingkat 3 yang dihormati, jadi taruna yang aku ajak ngobrol agak
menunduk-nunduk jawabnya, menghormati senior yang ada di meja itu. Rasanya
senang sekali karena dapat menikmati makan malam bersama mereka hehe.
Momen
lainnya yang sangat membekas di hati adalah ketika kami survive di hutan selama
dua hari. Kami mencari kayu bakar, mengambil ubi+singkong+ayam yang disediakan
pelatih di basecamp yang harus kita turun hutan terlebih dahulu. Kemudian kami
memasak bersama, bahkan dalam keadaan hujan, dengan jas hujan warna-warni
mengelilingi tumpukan kayu bakar yang asapnya mengepul diatasnya. Kami makan seadanya, walau hambar, walau ubi
keras, kami habiskan. Tak apa kelaparan asal bersama-sama, tak apa makan
sedikit asal bersama-sama juga. Kami juga membakar ular, tapi peserta muslim
tidak memakannya.
Itu
adalah sebagian cerita yang dapat aku tuliskan. Mungkin masih banyak memori
lucu, sedih, senang dan perasaan lainnya yang kami alami. Ohya, ada satu lagi
momen lucu. Ira, teman satu pletonku, saat kami dibangunkan malam-malam jam 1
karena dia belum tidur dan masih mencuci pakaian, dia ikut berkumpul di
lapangan tanpa menggunakan jilbabnya. Agak lucu sihh karena dia lari
terbirit-birit ke lapangan dengan pakaian seadanya, sandal, tanpa kerudung
sedangkan yang lain sebagian besar sudah mengenakan pakaian yang ditentukan.
Aku
lupa cerita, kami dibagi menjadi 8 pleton 2 kompi, yaitu kompi A dan kompi B.
Pleton 1A sampai 4A dan 1B sampai 4B. Aku berada di pleton 1B dengan jumlah 27
orang dari berbagai universitas. Teman dekatku di pleton 1B adalah mbak alfa
dari undip, juli dari unpad, dan ifah dari ugm. Sebenernya kami dekat satu sama
lain. Terlebih karena sering dihukum bersama, sering terlambat bersama, jadi
kami saling merasakan kebersamaan.
Aku
sangat bersyukur bertemu dengan teman-teman hebat dari seluruh Indonesia. Aku
sangat senang mendapatkan banyak ilmu di Akmil meskipun terkadang aku mengantuk
di kelas. Aku sangat bahagia dapat makan malam dan diskusi bersama taruna/i.
Aku sangat bangga menjadi bagian dari keluarga KSE. Dan saat perpisahan itu
datang, di hari terakhir kami berada di Akmil, rasanya sedih sekali. Kami
berpisah dengan teman-teman seperjuangan, dengan pelatih-pelatih hebat yang
selalu membimbing kami, dengan kehidupan akmil yang pastinya akan selalu kami
rindukan. Rasanya kami lupa dengan kehidupan kuliah yang sedang kami jalani,
kami pun merasa biasa saja meski 10 hari tanpa HP, kami terbiasa dibentak
dihukum, kami terbiasa bersama, menyanyi bersama, menangis dan tertawa bersama.
Kalau ada kata yang dapat mengungkapkan perasaan senang yang berlebihan, itulah
yang kami rasakan. Pengalaman berharga yang takkan kami lupakan. Momen paling
menyenangkan dan sekaligus mendebarkan bagiku. Semoga kami dapat bertemu
kembali yaa kawan-kawan seperjuangan. Terima kasih KSE yang telah memberi
kesempatan ini. Terima kasih para pelatih yang membimbing kami tanpa bosan
tanpa lelah. Terima kasih teman-teman atas kenangan yang kita buat bersama.
Terima kasih untuk diriku yang mampu berjuang dan bertahan sampai detik ini.
Semoga akan ada cerita-cerita menarik lainnya di masa yang akan datang.

